Sunday, 3 May 2009

Negri impian: sebuah khayalan?!

Setelah hiruk pikuk pemilu legeslatif,para elite politik negri ini pada sibuk untuk berkoalisi,kembali lupa pada janji janji kampanye mereka,lupa bahwa rakyat negri ini masih membutuhkan perhatian pada nasib mereka yang tak kunjung sejahtera....
Seandainya saja .,Indonesia mempunyai presiden yang bijaksana ,bisa bekerja sepenuh hati ,tanpa disibukan oleh anggota parlemen yang protes atau interupsi dengan alasan yang tidak jelas yang ujung ujungnya cuma duit.
Kemudian anggota DPR/MPR nya adalah benar benar menjalankan fungsinya menjadi wakil rakyat,menjadi penyambung lidah rakyat,berani menolak uang yang bukan menjadi haknya (tidak seperti sekarang ini hanya sibuk harta,wanita,dan tahta.kalo dipikir pikir mereka itu kan cuma wakil saja ya kok pethakilan seenaknya,seolah olah Indonesia ini milik nenek moyangnya,).Lha wong anggota DPR itu kan kerjanya untuk rakyat ,di gaji untuk kepentingan rakyat ,kok asal ada rapat minta tunjangan ini itu.Kalau nggak ada uang jadi malas rapatnya malah "rapet" sendiri sama sekertaris pribadinya.
Masih seandainya...
Seandainya aparat penegak hukum nya benar benar melaksanakan tugasnya ,tanpa mau disuap karena gajinya sangatlah cukup dan takut sama yang di Atas,tentunya tidak ada istilah "membela yang bayar" atau KUHAP "kasih uang habis perkara".Satu lagi seandainya aparat pemerintahan benar benar melayani rakyatnya dengan pengabdian dan ketulusan sesuai waktu disumpah dulu(padahal waktu disumpah dulu tangannya diletakan di atas kitab suci agama masing masing-apa orang orang itu bahwa kitab suci suatu agama sudah tidak "suci" lagì sehingga dengan seenak perutnya melanggar sumpah dan janjinya.)
Tentunya rakyat tidak akan kebingungan mencari nafkah sehari hari.
Tapi ya itu tadi ,ini seandainya dan hanya sebuah impian karena tidak ada dunia yang sempurna.
Akhir dari tulisan ini saya ingin mengutip anekdot dari Gus Dur "pada saat tiga piimpinan dunia berkumpul tiba tiba Tuhan datang dan memberi mereka satu kesempatan untuk bertanya.Ronald Reagen menanyakan 'berapa lama waktu yang diperlukan agar rakyat Amerika bisa makmur?' Tuhan pun menjawab '20 tahun lagi'.Mendengar jawaban Tuhan Ronald Reagen pun menangis.
Kemudian giliran Tony Blair mengajukan pertanyaan.Dia mengajukan pertanyaan yang sama'berapa lama waktu yang diperlukan agar rakyat Inggris bisa makmur?' Tuhan pun menjawab '20 tahun lagi'.Mendengar jawaban Tuhan Tony Blair pun menangis juga.
Terakhir adalah Suharto.Diapun mengajukan pertanyaan'berapa lama waktu yang diperlukan agar rakyat Indonesia bisa makmur?'
Sekarang giliran Tuhan yang menangis.

No comments:

Share/Save/Bookmark