Wednesday, 24 September 2008

Sebuah nyawa (tidak hanya) seharga Rp 30.000

Selasa 16 sept kemaren aku tercenung membaca surat kabar ,dengan judul
Berebut Rp 30.000 ,21 nyawa melayang .Suatu tragedi kemanusiaan
menjelang Lebaran,terjadi di rumah H.Syaichon warga Jl Dr Wahidin
Sudirohusodo,gang Pepaya,kelurahan Purutrejo,Kecamatan Purworejo,kota
Pasuruan.
Ribuan warga miskin dari Pasuruan dan sekitarnya datang kerumah orang
kaya itu untuk mendapatkan uang sejumlah 30 ribu. Sudah menjadi
kebiasaan keluarga kaya tersebut untuk membagikan zakat pada tanggal
15 Ramadan .
Tragedi ini adalah

potret kesulitan ekonomi masyarakat
Indonesia.Setelah kenaikan harga BBM,yang banyak ditentang masyarakat
,kelangkaan minyak tanah di kota kota besar dan naiknya harga elpigi.
Bayangkan saja demi uang sejumlah 30 ribu mereka rela berdesak-desakan
dan berebut dengan sekitar 5.000 orang di jalan depan rumah yang hanya
mempunyai lebar 2.5 meter.Padahal kebanyakan dari mereka berusia
lanjut dan mereka sudah mengantri sejak pukul 04.30 pagi.
Akibatnya bisa dibayangkan 21 orang meninggal dan ratusan lagi luka
berat dan ringan karena terinjak-injak oleh warga lain.
Bahkan meski sudah banyak jatuh korban mereka tidak peduli,mereka
tidak mau bubar sebelum mendapatkan jatah mereka.Sudah begitu murahkah
nyawa orang orang itu? Sudah begitu sulitkah mencari uang sekarang
ini?Atau itu merupakan type masyarakat sekarang ini,mendapatkan uang
dg cara apapun?

Kata kata bijak:
Kita menjadi kaya atau miskin tidak karena uang,tetapi karena
kemampuan kita untuk bergembira.
Berjuang keras untuk mencari kekayaan dan tidak mempunyai kemampuan
untuk bergembira sama halnya dengan orang botak yang berjuang untuk
mengumpulkan sisir


No comments:

Share/Save/Bookmark