Showing posts with label Tokoh. Show all posts
Showing posts with label Tokoh. Show all posts

Tuesday, 17 July 2012

Kerusuhan Mei 1998 menurut Asiaweek ( terjemahan )

ASIAWEEK INVESTIGATION TEN DAYS THAT SHOOK INDONESIA New evidence indicates that the riots that convulsed Jakarta during May were masterminded BY SUSAN BERFIELD AND DEWI LOVEARD AsiaWeek




 Mengungkap Dalang di Balik Kerusuhan (Bagian 1) Mulanya, 4 Perwira Polisi Hilang Misterius Bulan Mei 1998, sejarah dunia mencatat gejolak di Indonesia. Gejolak yang berujung pada jatuhnya Presiden Soeharto. Aksi kerusuhan massa, penjarahan, dan pemerkosaan juga berlangsung dengan brutal. Reformasi terus bergulir, namun pemicu kerusuhan yang sebenarnya masih bersembunyi di balik debu. Laporan investigasi Susan Berfield dan Dewi Loveard dari Asiaweek mengungkap, kerusuhan itu memang ada yang mendalangi. Keduanya menyimpulkan, kerusuhan itu adalah hasil sebuah aksi yang terencana rapi. Berikut intisarinya. 


“SEPULUH hari yang mengoyak Indonesia.” Begitu majalah berita terkemuka di Asia itu menyebut huru-hara yang menimpa Indonesia selama Mei lalu. Kisah ini dimulai bergeraknya jarum jam pada 12 Mei. Jarum jam itu berhenti ketika 4 mahasiswa Universitas Trisakti, Jakarta, ditembak mati oleh oknum aparat keamanan. Dalam tempo 24 jam, insiden penembakan itu membakar amarah massa. Di tengah situasi itu pula, sebuah program anti-Cina dilancarkan. Api pun melahap Jakarta. Warga keturunan Cina berlarian meninggalkan ibu kota. Jakarta tidak ubahnya sebuah “zona perang”. Ujung-ujungnya, Presiden Soeharto pun dipaksa mundur. Tetapi, arah nasib bangsa ini pun belum jelas. Sampai detik terjadinya kerusuhan “batu merajam bangunan mewah dan api melahap mobil-mobil“, rakyat semula banyak mengira itu sebuah spontanitas massa. Massa yang marah terhadap penguasa yang terlalu lama memerintah. Tetapi, apakah bangsa ini sudah sedemikian brutal? Sejarah Indonesia memang beberapa kali mencatat noda hitam aksi kekerasan. Namun, siapa penggeraknya, hampir tidak pernah diidentifikasi secara jelas. Itulah sosok-sosok “pemimpin bayangan”. Siapa mereka, tidak seorang pun berani membuka mulut. Sebab, mereka adalah orang-orang superkuat, yang hukum pun seolah anti menjamahnya. Kali ini, insiden Trisakti itu memberikan gambaran riil. Dua orang oknum polisi diajukan ke pengadilan militer sebagai pesakitan. Tetapi, benarkah mereka pelakunya? Jujur saja, sebagian rakyat Indonesia percaya bahwa para terdakwa itu hanya “kambing hitam”. Pengadilan militer itu hanya bagian sebuah upaya melindungi kepentingan militer yang lebih besar. Hasil investigasi sebulan penuh Asiaweek “termasuk wawancara dengan beberapa perwira militer, pengacara, aktivis hak asasi manusia (HAM), para korban, dan saksi mata” menyimpulkan, penembakan Trisakti, kerusuhan, penjarahan, dan aksi pemerkosaan terhadap para wanita Cina itu benar-benar sudah direncanakan. Di antara bukti yang didapat selama investigasi itu adalah hilangnya empat perwira polisi lengkap dengan seragamnya beberapa hari sebelum penembakan itu terjadi. Lagi pula, peluru yang diambil dari tubuh korban Trisakti itu bukanlah peluru resmi milik kepolisian. Belum cukup di situ. Bukti lain menyatakan bahwa dua orang lelaki, yang kini dalam persembunyian, mengakui bahwa mereka sengaja direkrut untuk memancing kerusuhan. Bahkan, sumber-sumber militer mengatakan bahwa untuk kali pertama mereka berhasil menyadap arus komunikasi beberapa markas AD di Jakarta dengan kelompok-kelompok provokator pada 14 Mei lalu. Pertanyaannya, bila kerusuhan itu sengaja digerakkan, tentu pasti ada dalangnya. Identitas si dalang ini memang tidak pernah gamblang. Namun, salah seorang yang disebut-sebut terkait dengan serangkaian aksi kerusuhan itu adalah menantu Soeharto, Letjen TNI Prabowo Subianto, yang saat itu menjabat Pangkostrad. Bahkan, beberapa kalangan menilai, keterlibatan Prabowo itu sudah kelewat jelas. Namun, Fadli Zon “aktivis muslim yang dekat dengan Prabowo“ menilai, sang letjen itu hanyalah korban “pembunuhan karakter”. Beberapa hari setelah kerusuhan itu, Prabowo menyangkal terlibat dalam kerusuhan itu. Lewat perantaranya, Juni lalu dia menyatakan siap diwawancarai Asiaweek. Tetapi, sampai kini janji wawancara itu tidak pernah terwujud. Mengapa harus Prabowo? Banyak alasan yang mendukung tudingan itu. Prabowo sudah luas dikenal sebagai sosok ambisius. Dia memiliki berbagai sarana untuk menyulut kerusuhan itu. Dengan posisinya, dia juga mampu memerintahkan beberapa pemuda yang tak berdaya melawan perintah, termasuk beberapa oknum dari organisasi paramiliter yang dikenal jago menyulut kerusuhan. Para preman, gangster, oknum paramiliter, dan beberapa perkumpulan pemuda melaksanakan saja apa yang dia perintahkan. Beberapa di antaranya, seperti Pemuda Pancasila, memang sudah mapan. Sumber-sumber militer mencurigai bahwa keterlibatan organisasi lain dalam kerusuhan di Jakarta itu tidak lebih dari sebuah jaringan lokal yang dikepalai para preman yang direkrut dari berbagai provinsi untuk mengacau ibu kota. “Prabowo terobsesi keyakinannya bahwa satu-satunya cara bisa memerintah Indonesia adalah dengan tipu muslihat militer. Dengan cara itu, dia yakin bisa meraih kekuasaan seperti mertuanya meraih kekuasaan dari Soekarno” ujar salah seorang perwira militer senior. Dia menjelaskan, Prabowo sengaja menciptakan kerusuhan itu dengan harapan rivalnya, (saat itu) KSAD Jenderal TNI Wiranto, tidak mampu memulihkan keadaan. Harapan Prabowo adalah Soeharto, yang ketika kerusuhan terjadi berada di Mesir, memberlakukan undang-undang darurat. Sebagai panglima Kostrad, satuan inti siap tempur, Prabowo sangat yakin dialah yang bisa mengendalikan situasi. Inilah teorinya. Teori lain mengatakan, Prabowo sengaja menciptakan kerusuhan itu untuk menarik simpati Soeharto bahwa Prabowo mampu mengendalikan situasi yang tidak menentu. Tetapi, apa yang terjadi kemudian? Prabowo kehilangan pelindung sekaligus komandonya. Negaranya menanggung kerugian yang jauh lebih besar. Setidaknya 1.188 orang tewas, sekitar 468 wanita diperkosa, 40 mal dan 2.470 toko ludes dimakan api, serta tidak kurang dari 1.119 mobil dibakar atau dirusak. Bagaimana sebenarnya peristiwa pilu ini terjadi? Mari kita telusuri sepuluh hari yang mencekam dan mengguncang ibu kota itu. INSIDEN TRISAKTI 12 MEI 1998 12 MEI: Sekitar pukul 10.30 WIB, mahasiswa mulai berkumpul di pelataran parkir di luar kampus Universitas Trisakti yang megah dengan bentuk M berlantai dua belas itu. Ini merupakan demo terbesar pertama yang dilaksanakan Trisakti. Areal parkir, biasanya dipenuhi Kijang, Toyota, dan Peugeot, siang yang panas itu benar-benar dijejali mahasiswa yang protes. Beberapa saat sebelum jarum jam menunjukkan pukul 11.00 WIB, bendera Merah Putih dikerek setengah tiang Sementara itu, mahasiswa dan dosen menyanyikan lagu kebangsaan. Lalu, mereka mengheningkan cipta sesaat sebelum akhirnya berteriak meminta Soeharto mundur. Pada pukul 12.30 WIB, sekitar 6.000 mahasiwa bergerak menuju jalan raya di sekitar kampus. Mereka bertekad melakukan long march menuju gedung DPR/MPR. Tiga wakil Trisakti “Dekan Fakultas Hukum Adi Andoyo Sutjipto, Kepala Satpam Kampus Arri Gunarsa, dan Ketua Senat Mahasiwa Julianto Hendro“melakukan negosiasi dengan aparat keamanan. Saat itu jarum jam sudah mendekati pukul 13.00 WIB. Perwakilan Trisakti itu meminta aparat mengizinkan mereka berjalan ke gedung wakil rakyat sejauh 5 km. Tetapi, permintaan itu tidak dikabulkan. Mahasiwa kecewa dan duduk-duduk sambil terus beraksi di jalanan. Julianto mengungkapkan penyesalannya karena keinginan bertemu wakil rakyat itu tidak terkabul. Aksi mahasiswa masih bertahan. Orasi, lagu kebangsaan, dan pekik protes terus berlangsung meski hujan mengguyur. Beberapa demonstran malah dengan akrab meletakkan bunga di pelatuk senapan para polisi yang berdinas. Sampai akhirnya terdengarlah kabar dari Golkar, kelompok yang merajai di DPR, bahwa tidak seorang pun sanggup menerima mereka. Berdiri tegak di tengah polisi dan rekan-rekannya, Julianto menyeru kepada mahasiswa yang kecewa. Meski kecewa, janganlah menyulut aksi kekerasan. SITUASI Trisakti pada 12 Mei sore memang tampak tenang. Setelah gagal menuju gedung DPR/MPR, mahasiswa yang kecewa siap tidak menyulut aksi keributan. Pukul 15.00 WIB, Adi Andoyo kembali ke kantornya. Setengah jam kemudian, asistennya menelepon bahwa polisi mengancam akan memakai kekuatan bila 200 lebih mahasiswa itu masih di jalanan menggelar aksi dan tidak mau kembali ke kampus. Pukul 16.15, kesepakatan pun tercapai. Mahasiswa dan polisi perlahan-lahan meninggalkan garis batas lima meter. Sebagian besar mahasiswa kembali ke kampus. Yang lain masih rileks di jalanan atau berkerumun di sekitar penjaja makanan yang ada di tepi jalan. Ketua Senat Mahasiswa Julianto Hendro tampak menenggak air kemasan. Beberapa personel polisi juga memanfaatkan waktu dengan melepas ketegangan itu. Semuanya tampak tenang. Dan, Adi Andoyo pun bertolak pulang. Seperempat jam kemudian, 16.30 WIB, seorang lelaki yang berdiri di tengah kerumunan mahasiswa berteriak agar para mahasiswa menghentikan protes Mahasiswa meneriaki lelaki itu sebagai agen intelijen dan mulai menggebukinya ketika dia berusaha lari sejauh 50 meter menuju garis polisi. Baru kemudian diketahui bahwa lelaki itu bernama Masud, mahasiwa Trisakti yang drop-out. Polisi maupun militer tidak mengklaim Masud adalah orangnya. Karena Masud, suasana menjadi tegang kembali. Namun, Kepala Satpam Trisakti Arri Gunarsa dan Julianto mengingatkan rekan-rekannya agar tetap tenang dan kembali ke kampus. Pada pukul 16.45 WIB, seorang letkol polisi menghentikan perundingan. Mahasiswa diberi deadline 15 menit agar meninggalkan jalan raya. Sekitar 100 mahasiswa menolak seruan itu dan tetap berdiri di depan barikade polisi. Menurut Julianto, tiga atau empat polisi berusaha menghalau mereka agar mundur. Memang, mahasiswa berusaha terus merangsek, meski tidak sampai melewati garis batas mereka sendiri. Polisi mengklaim mahasiswa kemudian menyulut kericuhan. Tetapi, para saksi mata mengatakan bahwa suasana sebenarnya mulai tenang. Sekitar pukul 17.20 WIB, seseorang meletupkan senjata ke udara. Polisi pun membalas dengan melepaskan tembakan gas air mata, memukulkan tongkatnya, dan menembakkan senjata. Mahasiwa berlarian berlindung di gedung-gedung sekitarnya dan di bawah payung penjaja minuman di pinggir jalan. Tetapi, polisi terus memburu mahasiswa hingga ke pintu gerbang kampus. Cukup sampai di pintu gerbang itu saja. Tetapi, peluru-peluru terus melesat. Sebutir peluru karet menghantam punggung Julianto yang saat itu sudah di depan kantor senat. Menghadapi keadaan itu, dari dalam kampus, mahasiwa membalas dengan melemparkan botol dan batu ke arah polisi. Saat itu, mahasiwa yakin benar bahwa peluru yang diberondongkan kepada mereka adalah peluru karet. Mereka yakin bahwa polisi dan tentara pasti mengikuti prosedur dalam menangani aksi-aksi demonstrasi. Itu terlihat jelas dalam satuan-satuan yang diturunkan untuk mengamankan aksi di Trisakti ini. Seperti pemakaian empat lapis kekuatan: polisi di depan dengan tameng, pelindung tubuh, dan pentungan; lapis kedua adalah polisi yang bersenjatakan gas air mata dan senapan stun (yang bisa membuat korban cuma pingsan); lapis ketiga adalah tentara dengan gas air mata dan senapan berpeluru karet; serta lapis keempat terdiri atas satuan khusus polisi dan tentara bersepeda motor yang bersenjatakan senapan air. Pada hari itu, dua komandan polisi kemudian bersaksi bahwa personel sama sekali tidak memakai amunisi hidup, tetapi mereka membawa senapan laras Steyr AUG dan SS-1 yang diisi dengan peluru kosong dan 12 peluru karet, plus SS-1 yang masing-masing diisi lima gas kanister. Namun, “seseorang” benar-benar memakai peluru nyata Beberapa saksi mata mengatakan, polisi berkendaraan sepeda motor melesat di atas jembatan layang yang membentang paralel antara kampus Trisakti dan jalan tol. Mereka mengenakan seragam polisi Brigade Mobil (Brimob). Kemudian, kedua perwira militer mengatakan kepada Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) bahwa sepekan sebelum demonstrasi itu, empat anggota unit Brimob raib bersama seragamnya. Siapa pun para lelaki di jembatan layang itu, mereka benar-benar jitu membidikkan peluru nyatanya. Pukul 17.30 hingga pukul 18.00 WIB, empat mahasiswa gugur tertembus peluru di kepala, leher, dada, dan punggung.

KERUSUHAN MEREBAK TANPA ADA GAS AIR MATA Sementara itu, sebagian besar korban luka masih berhadapan dengan polisi. Mereka berusaha membuka barikade dengan melempari polisi dengan batu. Korban gugur pertama Hendriawan Sie, 20 tahun, kemudian dilarikan Arri secepatnya ke RS Sumber Waras yang terdekat. Sayang, nyawa Hendriawan yang lehernya tertembus peluru saat berada di balik pintu gerbang kampus itu tidak tertolong. Darah terus mengucur dari lehernya. Dalam perjalanan menuju kampus itulah, dia gugur Elang Mulya Lesmana, 19 tahun, ditembak di dada dan langsung tewas di kampus. Hafidhin Royan, 21 tahun, ditembak di kepala dan meninggal di rumah sakit. Lalu, Hery Hartanto, 21 tahun, ditembak di punggung ketika dia berhenti berlari untuk membersihkan perih di matanya yang terkena gas. Dia meninggal di kampus itu Menurut kepolisian dan seorang sumber yang dekat dengan militer, peluru yang dipakai membunuh empat mahasiwa itu jenis 5,56 mm MU5 yang dilesatkan dari senapan laras Steyr AUG. Padahal, aparat polisi yang diterjunkan untuk mengamankan demo Trisakti itu dibekali MU4 Hasil yang menguatkan polisi tidak terlibat dalam insiden pembunuhan itu tidak lain berupa bukti peluru yang diambil dari jasad Hery pada 7 Juni lalu. Satu-satunya bukti kuat bahwa polisi memang tidak terlibat Empat nyawa sudah melayang. Tetapi, mahasiwa masih mendengar tembakan sporadis pada pukul 18.00 hingga pukul 19.00 WIB. Beberapa saat kemudian, korban terakhir bernama Sofyan Rachman ambruk ke tanah. Hingga sekarang, Sofyan masih berada dalam perawatan intensif untuk memulihan luka di dada yang juga menggores ginjalnya. Pukul 20.00 WIB, Intan, mahasiswi fakultas hukum, keluar dari kampus dengan mengenakan pakaian putih. Dia berteriak kepada polisi bahwa orang-orang di dalam kampus butuh pertolongan medis. Setelah itu, tembakan pun berhenti. Seketika itu pula, 35 orang terluka dilarikan ke rumah sakit, meski sebelumnya polisi menolak memberikan jaminan keamanan ambulans yang membawa para korban itu. Selain itu, kata Arri, komandan polisi telah memberi tahu dia bahwa luka-luka mahasiswa tersebut tidak mengancam nyawa. Sebab, peluru yang dipakai terbuat dari karet. Beberapa saat setelah penembakan Trisakti itu, kawasan etnis Cina di Sunter dalam keadaan siaga. Malam itu, Imam Suyitno “warga sipil yang sudah dilatih meminta bala bantuan tentara dalam keadaan darurat“ diperintahkan mengorganisasi pemantauan keamanan. Dia berdiri mengawasi keadaan di pintu gerbang pusat perbelanjaan di kawasan itu bersama rekan-rekannya. Malam itu, mereka melihat sebuah truk AD yang berhenti di belakang supermarket. Sekitar 20 orang lelaki berpenampilan serem (garang) turun dari truk itu. Tetapi, kata Imam, sebelum turun, wajah-wajah sangar itu menerima sesuatu dari seorang lelaki. Lelaki ini kemudian lenyap ditelan kegelapan malam. 13 MEI: Pukul 09.15 WIB, ribuan mahasiswa menghadiri upacara belasungkawa di Trisakti. Sebuah tenda plastik bernoda darah berdiri di atas jalan setapak dekat Gedung M. Bendera berkibar setengah tiang. Di sana hampir semua tokoh pengkritik pemerintah hadir memberikan orasi. Kaum “selebriti” politik Indonesia mengatakan, era baru segera datang. Setelah itu, kata saksi mata, keadaan berubah cepat Kerumunan massa yang ditolak masuk dan semula di depan pintu gerbang kampus kini mulai meruah dan melakukan keributan di jalanan. Mencium gelagat brutal itu, mahasiswa yang di lingkungan kampus bertekat tidak akan beranjak keluar menuruti seruan bergabung massa di luar. Massa pun mulai kalap. Mereka menghitamarangkan mobil-mobil yang diparkir dekat Mal Citraland. Dua boks gerbang pembayaran tol disulut api. Kerusuhan meluas di wilayah Jakarta Barat, lalu terus meluas. Ketika asap membumbung dari bangunan-bangunan Jakarta, pengacara kesohor Adnan Buyung Nasution dan Ketua YLBHI Bambang Widjoyanto menemui Prabowo di markas Kostrad. Mereka bicara selama 30 menit. Di hadapan Prabowo, Buyung dan Bambang menanyakan keterlibatan menantu Soeharto itu dalam insiden penculikan beberapa aktivis politik. Buyung dan Bambang merasa perlu menanyakan hal itu didasari pikiran bahwa adanya konflik antara Prabowo dan Wiranto. Di hadapan dua praktisi hukum senior itu, Prabowo bersumpah tidak tahu-menahu soal penculikan para aktivis tersebut. Prabowo juga menolak dugaan bahwa dia berseteru dengan Wiranto Kerusuhan terus meluas di luaran. Pada pukul 16.00 hingga pukul 17.00 WIB, kata seorang perwira tinggi, Wiranto memerintahkan (kala itu) Pangdam Jaya Mayjen Syafrie Syamsuddin agar mengirim pasukan untuk mengontrol aksi kerusuhan yang kian luas itu. Syafrie benar-benar menurunkan pasukannya di jalan-jalan. Namun, ternyata dia tidak memberangkatkan atau menempatkan pasukannya di beberapa wilayah yang sebenarnya sangat membutuhkan. Bahkan, dia tidak memberikan perintah yang jelas kepada pasukannya itu Menurut sumber perwira tinggi itu, Syafrie malah membuat pasukannya bingung. Mereka yang bermarkas di wilayah barat di Jakarta diperintahkan pergi mengamankan di wilayah timur, dan sebaliknya. Saat itulah Prabowo mendesak Wiranto agar memberinya izin menurunkan unit pasukan elite cadangan di ibu kota. Tetapi, Wiranto menolak Sekitar pukul 19.00 WIB, Wiranto melakukan inspeksi dengan Syafrie. Saat itulah, Wiranto merasa tidak cocok terhadap tindakan yang dilakukan Syafrie. Karena itu, Wiranto kemudian meminta Pangdam Diponegoro mengirim pasukan ke Jakarta. Padahal, perjalanan menuju Jakarta butuh waktu sehari penuh. Prabowo dan perwira-perwira yang loyal kepadanya, seperti Syafrie, masih bisa mengontrol sebagian besar wilayah Jakarta sebelum kehadiran pasukan dari Jawa Tengah. Sumber-sumber intern mengatakan, Wiranto memang sengaja tidak menurunkan sejumlah pasukan yang loyal kepadanya karena cemas akan terjadi bentrokan bersenjata dengan pasukan Prabowo. Kerusuhan di Jakarta pada 13 Mei 1998 itu benar-benar mencekam. Pengendalian huru-hara itu pun terkesan tidak terpadu sehingga membuka pintu bagi aksi-aksi lain di wilayah ibu kota. Jakarta merana, merah padam disulut api oleh orang-orang kalap. Di tengah kegerahan inilah, beberapa WNI Tionghoa meronta karena diperlakukan tidak manusiawi.
KEPUKUL 18.30 WIB: Susi, mahasiswi salah satu perguruan tinggi di kawasan Jakarta Pusat, berniat pulang. Seperti biasa, Susi menumpang sebuah bus dengan rute yang melintasi Citraland dan Universitas Trisakti. Ketika bus sampai di Mal Citraland, puluhan massa mengepung dan memaksa sopir menghentikan busnya. Massa meneriaki seluruh penumpang agar turun. Bila tidak mau, mereka pun siap membakar bus itu. Akhirnya, sekitar 50 penumpang bus tersebut turun juga. Tetapi, massa yang kalap itu masih juga membakar bus tersebut. Tidak ada cara lain bagi Susi kecuali pulang dengan berjalan kaki. Dicekam ketakutan, langkah mahasiswi keturunan Cina ini kian cepat. Seolah dia dikejar seseorang. Menyusuri kegelapan malam, tidak ada lentera kecuali nyala dan jilat api mobil serta sepeda motor yang dibakar di jalan. Kerumunan massa semakin brutal. Jumlah mereka sudah mencapai ratusan. Seolah berpesta, mereka mem**** buta melakukan perusakan. Sedangkan ratusan lainnya menatap di pinggir jalan. Seorang lelaki tak bersenjata berusaha merampok Susi. Namun, mahasiswi ini berusaha bertahan untuk tidak menyerahkan dompetnya. Susi berlari kencang. Lelaki yang bermaksud jahat itu pun mengejarnya. Ketika lelaki itu mendekat, Susi berusaha mencari perlindungan dengan merangkul seorang lelaki yang dekat dengannya. Lelaki itu bernama Wahyu. Wahyu mengaku tak mampu memberikan perlindungan kepada Susi. Dengan demikian, lelaki jahat itu pun dengan gampang meminta uang Susi Susi bersumpah hanya punya uang Rp 10 ribu. Menurut Susi, uang sejumlah itu pun diambil oleh lelaki tadi. Malahan, dia masih mengumpat Susi dengan kata-kata, “Gadis Cina edan. Wahyu memikirkan cara bagaimana menyelamatkan Susi. Akhirnya, dia memberikan topinya kepada Susi. Mahasiswi ini kemudian menutupi raut wajahnya dengan topi itu sesuai dengan saran Wahyu. Karena sama-sama satu arah, Wahyu dan Susi berjalan bersama. Di perjalanan, Susi mengatakan melihat sebuah mobil dibakar bersama penumpangnya. Dia juga mendengar pekikan “Enyahkan Cina.” Di seberang jalan, dia malah menatap gadis-gadis yang sudah ditelanjangi. Orang berusaha melihat, tetapi Susi berusaha tak acuh. Sekitar pukul 21.00 WIB, Susi dan Wahyu berhasil meninggalkan jalan yang mencekam tadi. Mereka kemudian berhenti di sebuah kedai teh. Anak lelaki pemilik kedai datang. Dia baru saja melihat kerusuhan di jalan. Anak pemilik kedai ini mengatakan bahwa mereka (massa) sudah melakukan perbuatan yang mengerikan bagi warga keturunan Cina. Suami-istri pemilik kedai teh itu menawarkan inapan. Susi pun tak bisa menampik. Pagi-pagi sekali, mereka menghubungi seorang temannya untuk mengantarkan Susi pulang. Sebelum pulang, suami-istri itu menyodorkan jilbab agar Susi mau memakainya. Tetapi, Susi lebih suka memakai topi pemberian Wahyu. Ketika jarum jam siap menyentuh 09.30 WIB (14 Mei), Susi tiba dengan selamat di rumah. Tetapi, dia tidak lagi bisa menyaksikan pemandangan yang serupa dengan pemandangan saat dia berangkat ke kampus sehari sebelumnya. Soalnya, toko-toko yang ada di sekitarnya sudah jadi arang. Toko-toko yang ditempeli tulisan “Milik Muslim” di pintu maupun pintu gerbang umumnya selamat Namun, ibu Susi “yang membuka toko kosmetik“ tidak mau memasang tulisan itu. Sepekan setelah peristiwa itu, warga di lingkungan Susi tinggal mengorganisasikan pengamanan bersama setiap malam. Masing-masing orang melengkapi diri dengan alat pengaman, dari stik golf sampai pedang samurai Hampir bersamaan dengan waktu Susi meninggalkan kampus tadi, seorang pengusaha keturunan Cina tiba di rumahnya di Jembatan Lima, kawasan yang didominasi etnis Cina. Istri pengusaha itulah yang meminta sang suami secepatnya pulang. Sang istri itu merasa ngeri melihat kerumunan orang yang tidak dia kenal dan berteriak di jalanan sambil membawa batu Ipar lelaki pengusaha itu mengaku melihat sekitar lima orang berpenampilan serem melempar jendela-jendela bangunan dengan batu untuk menarik perhatian. Ketika gelombang massa mulai berdatangan dari kampung sekitarnya, kelima orang berpenampilan garang itu mempengaruhi massa agar masuk sebuah gudang air mineral. Massa diserukan agar mengambil apa saja yang mereka suka, lalu bakar benda-benda yang tidak bisa dibawa. Lalu, kelima orang tadi berteriak, “Mari kita serbu tempat lain!” Dan, massa yang kesetanan itu pun pergi. Malam itu juga bank di wilayah itu dirusak, mobil-mobil dibakar, dan sebuah toko emas habis dikuras. Sebuah pasar makanan juga dihancurkan. Warga menelepon pos polisi dan militer untuk meminta bantuan. Tapi, tak seorang pun menjawab panggilan telepon itu. Menjelang tengah malam, ujar seorang relawan kemanusiaan bernama Karyo, seorang godfather memberikan perintah kepada sekumpulan anggota geng anak muda dan pecandu narkotika agar bertemu pagi harinya untuk merayakan “pesta jalanan.” Karyo mengakui tahu soal perintah itu karena salah seorang dari anggota geng tadi memberi tahu dia. Kepada Karyo, pemuda itu mengatakan bahwa perintah godfather tidak mungkin ditolak. Pemuda itu diminta mengenakan seragam sekolah, lalu datang ke kawasan Klender untuk memancing perkelahian. Namun, tutur Karyo, pemuda itu pisah dengan kelompoknya sebelum sampai di tujuan. 14 MEI: Sekitar pukul 02.00 dini hari, kata seorang perwira militer, (kala itu) Pangdam Jaya Mayjen Sjafrie Syamsoeddin mengeluarkan instruksi bagi kelompok-kelompok yang ada di jalanan. Sepanjang hari itu, orang-orang di markas Sjafrie mendengar perintah ke mana orang-orang di jalanan itu harus pergi. Akhirnya, frekuensi radio itu berhasil di-jam (dicegat). Padahal, hanya satuan elite Komando Pasukan Khusus (Kopassus) dan intelijen AD- lah yang bisa melakukannya. Menurut sumber lain yang juga militer, setelah fajar, gangsters dari Lampung, Sumatera Selatan, dipandu memasuki wilayah ibu kota oleh pasukan Kopassus “satuan yang dipimpin Prabowo mulai 1995 sampai Februari lalu. Seorang pegawai sipil di markas militer mengatakan, sepekan sebelum kerusuhan meletus, ratusan pemuda Timtim dibawa dan dilatih oleh Kopassus. Mereka dibawa dengan pesawat carteran dari Dili ke Yogyakarta. Dari Yogyakarta, ratusan pemuda Timtim itu dibawa ke Jakarta dengan kereta api. Saat dimintai konfirmasi oleh Asiaweek, maskapai yang mengangkut pemuda Timor Timur itu menolak buka suara. Menurut mereka, adalah kebijakan untuk tidak membicarakan penerbangan tersebut. Pagi-pagi sekali, Karyo menerima telepon dari seorang tak dikenal. Menurut si penelepon, hari itu Jatinegara Plaza di kawasan Jakarta Timur akan dibakar. Saksi mata mengatakan, setelah telepon itu, delapan lelaki tiba di Jatinegara. Seorang di antara mereka berusaha menarik perhatian massa dari kampung sekitar dengan membakar ban mobil. Ketika massa sudah berkumpul, empat dari delapan lelaki tadi mengajak mereka menuju plaza yang sedang melakukan aktivitas bisnis. Mereka merusak, tapi aparat keamanan hanya bisa menatap. Beberapa jam kemudian, seseorang menembakkan gas air mata di lantai dasar Jatinegara Plaza. Dua saksi mata melihat, saat itu seorang lelaki menyiramkan bensin di pintu masuk, lalu membakarnya. Di lantai tiga, seorang lelaki lain terlihat membakar gulungan kain. Dia lalu meninggalkan tempat itu dengan turun melewati pipa udara. Sebanyak 70 orang, termasuk beberapa pekerja di plaza itu, tewas terbakar. Namun, satuan pemadam kebakaran dan polisi tidak bereaksi. Bergerak jauh ke arah timur Klender, Yogya Plaza juga diserbu. Saksi mata mengatakan, sekelompok lelaki memimpin massa yang ada di jalanan dan mempersilakan mereka mengambil apa pun yang mereka suka. Sekelompok lelaki penyulut tadi berpotongan rambut cepak, badan tegap, dibungkus jaket hitam. Lelaki-lelaki ini mengaku sebagai mahasiswa Setelah beberapa jam menyerbu, merusak, dan menjarah Yogya Plaza, seorang di antara lelaki tadi berteriak kepada para penjarah agar secepatnya keluar dari plaza itu. Lalu, lelaki ini dan tiga rekannya mencelupkan sepotong kain lebar ke dalam bensin, kemudian menyulutnya dengan korek api. Kain yang terbakar itu dilemparkan ke plaza. Lelaki-lelaki berjaket hitam itu pun pergi. Tapi, sekitar 100 orang mati terpanggang. Di Jakarta Barat, massa berkumpul di Meruya. Mereka sudah mendengar rumor bahwa pasar di wilayah tetangga akan dijadikan abu. Beberapa saat kemudian, kata saksi mata, dua minibus tiba di Meruya. Dua minibus itu mengangkut para lelaki berseragam sekolah. Ada kejanggalan. Lelaki-lelaki berseragam itu sebenarnya sudah tidak tampak sebagai pemuda belasan tahun. Lelaki-lelaki berseragam ini memakai bom molotov untuk menyulut api. Api menjalar. Lelaki-lelaki berseragam itu pun cepat lenyap. Masih pagi hari pada 14 Mei, sekelompok lelaki yang tampak terlalu tua dan terlalu besar untuk mengenakan seragam SMU, mulai memancing keributan dengan berkelahi di jalan raya utama Sunter. Mereka kemudian juga mulai membakar ban-ban. Setidaknya, tiga pengendara sepeda motor terlihat berputar-putar di sekelilingnya. Seolah tampak kebingungan. Saat itu, Suyitno “penghubung militer-warga“ menunjukkan satu arah kepada pengendara sepeda motor tadi. Namun, para pengendara itu malah memacu sepeda motornya menjauh. Sejak kerusuhan meletup, sudah dua hari Suyitno melakukan kontak dengan pos komando militer setempat. Saat kontak itu, kata Suyitno, seseorang di markas memberi tahu dia, “Bila kamu dilempari batu oleh para perusuh, balaslah dengan senyum. Saya perintahkan kamu hanya tersenyum, cukup itu saja.” Para perwira di wilayah Sunter mengaku juga menerima perintah yang sama dengan Suyitno. Beberapa mengaku sama sekali tidak menerima perintah. Ketika beberapa perwira berinisiatif melapor kepada atasan tentang aksi yang kian meluas, mereka hanya dibalas dengan perintah agar tetap siaga. Menjawab fenomena aneh ini, seorang perwira berkata kepada Suyitno, “Saya rasa sama-sama ada ketidakjelasan perintah di Jatinegara dan Klender.” Sementara itu, kata seorang sumber yang dekat dengan (saat itu) Kapolda Mayjen Hamami Nata, beberapa satuan polisi diminta berkumpul di markas, tapi diperintahkan tetap di tempat. Menurut sumber itu, hampir semua polisi di sana tidak ada yang berani meninggalkan tempat karena mereka tidak yakin benar perintah siapa yang akan diikuti. Satuan pemadam kebakaran juga diperintahkan agar tidak bekerja. Glodok Plaza, kawasan komersial yang berdiri megah di tengah Jakarta itu, akhirnya juga tidak luput dari serangan api dan serbuan batu. Muladi, seorang satpam, menyaksikan sendiri bagaimana aksi perusakan dan penjarahan itu terjadi. Saat itu sekitar pukul 16.00 WIB, Muladi melihat lebih dari 2.000 orang dengan tas-tas penuh batu dan alat pencongkel pintu secara paksa bergerak menuju Glodok. Beberapa orang lain membawa bom molotov. Polisi memberikan tembakan ke udara sebagai peringatan, tapi massa tidak menggubris. Polisi kemudian tampak pasrah dan minggir. Glodok Plaza diserbu, dijarah, dan dilumatkan. Orang-orang tampak bersemangat mengusung komputer, kulkas, televisi, dan barang lain dari pusat perbelanjaan elektronik itu. Pesta itu terus berlangsung sebelum api mulai tampak melahap sekitar pukul 19.00 WIB. Tidak tampak seorang pun berusaha memadamkan kobaran api. “Lebih mengerikan dibandingkan dengan perang karena kami tak bisa meminta bala bantuan” kenang Muladi. Sebelum Glodok Plaza dirajam api, petangnya, si jago merah juga melahap rumah seorang pengusaha keturunan Cina yang ada di wilayah tetangganya. Massa meruak masuk, mengambil barang-barang dari rumah itu. Saat itu, sejumlah personel militer hanya bisa menatap. Sedangkan si pengusaha yang cemas terpaksa tertahan di jalanan. Dia menggigil ketakutan ketika massa berteriak untuk menghancurkan rumahnya. Akhirnya, dia pun terpaksa menyusuri tapak jalan dengan berjalan kaki. Baru menjelang tengah malam, dia sampai di kediamannya yang sudah menjadi arang. Dia hanya bisa menatap sisa-sisa miliknya disantap api. Baru pada pagi hari, konglomerat ini bisa memasuki areal rumahnya dengan ditemani dua orang perwira polisi militer. Lantai satu dan dua rumah itu sudah rata dengan tanah. Dengan perasaan pedih, dia naik ke tangga tiga yang selama itu dijadikan apartemen keluarga. Ternyata, di sana tidak kalah mengenaskan. Perabot mahal yang ada di ruang tamu amblas. Di kamar tidur, di atas ranjang, lelaki pengusaha itu mendapati istrinya sudah tewas terpanggang. Di kolong ranjang, anak gadisnya yang berusia 17 tahun juga sudah menjadi mayat. Sementara itu, kakak wanita gadis itu yang berusia 18 tahun pun sudah tidak bernyawa. Jasadnya ada di lemari pakaian dengan tangan menggengam telepon selular dan Injil. Menurut Rosita Noer, dokter yang juga aktivis hak asasi manusia, sepanjang hari pada 14 Mei itu, setidaknya, sudah 468 wanita diserang sekelompok lelaki di 15 tempat. Di 10 wilayah, sekelompok wanita juga dikerjai. Umumnya, korban diserang ketika berada di toko, rumah, dan di dalam mobil mereka. Yang memilukan, justru pelaku kerap memperlakukan korban secara tidak manusiawi. Mereka menelanjangi, lalu melihat tubuh wanita-wanita korbannya. Beberapa lagi malah memperkosanya. Para pelaku itu memang asing di mata korban, yang umumnya keturunan Cina. Korban lain diperkirakan akibat salah sasaran karena mirip Cina atau bekerja pada keluarga keturunan Cina. Sedikitnya, 20 wanita tewas atau dibunuh setelah diperkosa itu, beberapa lagi nekat bunuh diri. Menurut penuturan Ita Nadia, Kepala Pusat Studi Wanita Kalyanamitra, telah terjadi 10 lelaki memaksa beberapa wanita masuk ke sebuah rumah. Di sana, mereka mengobrak-abrik isi rumah itu, lalu menelentangkan korbannya. Mereka memperkosa ibu dan anak perempuan di depan ayah dan anak lelakinya. Seorang nenek mengaku melihat kemaluan cucu wanitanya ditusuk dengan botol. Di tempat lain, seorang ibu mencoba bunuh diri karena tidak tahan melihat anak gadisnya yang berusia belasan tahun diperkosa di hadapannya. Seorang ayah malah memberi anaknya Baygon untuk memudahkan jalan anak gadisnya itu bunuh diri setelah dia diperkosa. Juga, seorang ibu yang mengidap serangan jantung langsung tewas begitu mendengar anak gadisnya telah diperkosa. Di sebuah apartemen berlantai 15 di kawasan Pluit, Jakarta Utara, beberapa kelompok lelaki bergerak secara sistematis menyerang wanita-wanita Cina yang ada di setiap lantai. Aksi ini dimulai pukul 09.00 WIB sampai petang hari. Para lelaki itu bisa bergerak leluasa karena mereka benar-benar sudah menguasai apartemen itu. Diperkirakan, mereka sudah memperkosa lebih dari 40 gadis dan wanita. Tiga gadis bersaudara sedang menunggu toko milik keluarga ketika tujuh lelaki berkulit legam dan tegap yang tidak mereka kenal menyerang sekitar pukul 16.00 WIB. Gadis-gadis itu kemudian berhamburan menuju apartemen mereka di lantai tiga. Lelaki-lelaki tersebut memburu dan berhasil menangkap mereka. Dua gadis termuda diperkosa, sedangkan si sulung hanya diberi tahu bahwa dia terlalu tua untuk dimangsa. Lalu, mereka menyulut lantai dasar apartemen itu dengan api. Dua gadis yang mahkotanya sudah direnggut paksa tadi didorong ke dalam kobaran api dan tewas. Namun, si sulung dapat diselamatkan oleh para tetangga. Tidak berhenti di sini, kekerasan dan pemerkosaan terus menjalar ke segenap wilayah itu. Menjelang pukul 19.00 WIB, sejumlah wanita telah diperkosa dan kawasan itu dibumihanguskan. Di tiga kawasan pecinan di Jakarta Barat, antara pukul 17.00 hingga 20.00 WIB, sejumlah lelaki menyeret ratusan gadis ke jalanan, menelanjangi, dan memaksa mereka menari bersama massa. Menurut Dokter Noer, 20 orang diperkosa dan beberapa lagi dibakar hidup-hidup. Dokter wanita itu juga mengakui dirinya tengah mempelajari kasus perkosaan enam gadis berusia 14รข€“20 tahun di beberapa wilayah Jakarta. Empat di antara enam gadis itu mengaku telah digilir tujuh lelaki yang tidak mereka kenal. Malah, (maaf) wilayah kelamin gadis-gadis itu “mulai vagina sampai anus“ dirobek hingga menganga. “Secara fisik memang bisa disembuhkan. Tetapi, peristiwa ini akan menghantui mereka selamanya,” tutur Noer. Jakarta masih mencekam. Pukul 19.30 WIB, Jenderal Wiranto muncul di layar televisi dan mengatakan bahwa aparat keamanan sudah berhasil mengendalikan situasi. Tetapi, tidak adanya aparat keamanan di jalan-jalan mendorong beberapa kedutaan asing menyerukan perintah evakuasi. Dan, ribuan warga asing “termasuk etnis Cina“ mulai meninggalkan Jakarta yang membara dan berhias kebrutalan. Ketika aksi perkosaan dan penjarahan masih berlangsung, Prabowo sedang berada di markas Kostrad. Di sana, menantu Soeharto itu sedang menerima utusan kelompok pemuda dan organisasi muslim. Menurut seseorang yang ada di tempat itu, Prabowo meminta mereka membantu menenangkan situasi dengan memberikan dukungan kepada Sjafrie. Prabowo memang tegang, kata orang dekatnya, namun tampak masih bisa mengendalikan diri. Mereka memesan makanan dan santap malam bersama. Karena situasi masih kacau, pesanan makanan itu pun harus diambil dengan kendaraan bersenjata. Sekitar pukul 01.00 WIB (15 Mei), Prabowo mengunjungi Ketua Umum PB NU KH Abdurrahman Wahid alias Gus Dur di kediamannya. Lalu, Prabowo kembali ke markas Kostrad, yang ternyata kemudian hanya memberinya kesempatan bertahan di sana cuma hingga sepekan berikutnya.

LENGSERNYA SUHARTO 19 MEI: Selama empat hari berikutnya, aksi kekerasan dan berbagai drama pilu itu masih menghantui jalanan. Pukul 04.40 WIB pada 15 Mei, Soeharto tiba dari Kairo, Mesir, dan mendarat di landasan militer Halim di kawasan Jakarta Timur. Konvoi yang terdiri atas 100 kendaraan bersenjata mengawal Soeharto menuju kediamannya di Cendana. Setelah itu, tank-tank Scorpion pertama dan beberapa batalion pasukan bergerak memasuki pusat kota. Jalanan masih dihiasi pecahan kaca, mobil-mobil yang sudah jadi rongsokan arang, televisi yang porak-poranda, dan puing-puing barang yang sebelumnya begitu berharga. Bank, pusat perkantoran, gedung pemerintahan, dan sekolah-sekolah tutup. Hanya bandara internasional yang tetap melaksanakan aktivitas Di tengah kebisuan Jakarta itu, satuan pemadam kebakaran mulai beraksi memadamkan toko-toko dan bangunan-bangunan yang masih mengeluarkan asap. Seketika itu pula, mayat-mayat sudah bisa dihitung. Tapi, masih banyak yang belum terbilang. Para ayah sibuk mencari anaknya. Ibu-ibu berbondong ke rumah sakit untuk mengenali jasad-jasad, yang mungkin di antara mereka ada jasad suaminya. Sungguh sayang. Mayat-mayat itu tidak bisa lagi dikenali karena rusak terbakar. Akhirnya, korban-korban aksi kekerasan Mei ini dikubur masal Paramedis dari tim relawan untuk kemanusiaan berhasil menolong seorang lelaki yang terluka parah di luar markas militer, di kawasan Jakarta Timur. Lelaki itu kemudian dibawa paramedis tersebut ke posnya. Luka di kepala lelaki itu diobati. Di sana, kata Romo Sandyawan, “salah seorang pendiri tim relawan tersebut“ lelaki itu mengakui bahwa dia telah direkrut dan dilatih bagaimana memancing kerusuhan. Menurut lelaki itu, mula-mula dia menerima uang muka 2 dolar AS (perhitungan kurs rupiah saat itu sekitar Rp 35 ribu) dan diangkut ke Jatinegara oleh beberapa lelaki yang sulit dikenali. Lelaki ini juga berkata, dia direkrut dalam rombongan beranggota delapan orang dari Jawa Barat. Setelah dilatih, dia diberi batu dan bom molotov dari bensin. Menurut dia, dalam rombongan beranggota delapan orang tadi, mungkin dialah satu-satunya yang bertahan hidup akibat kerusuhan Romo Sandyawan menuturkan, pemuda dari Jawa Barat itu diasramakan dan dibrifing selama dua pekan di markas militer di pinggiran selatan Jakarta. Romo Sandyawan mengaku percaya pada penuturan pemuda itu, tetapi belum bisa menjamin penuh akurasinya karena pemuda tadi mengalami cedera syaraf Eksodus warga asing terus berlangsung. Ribuan WNI keturunan Cina dan warga asing lain bertolak lewat jalur udara. Jalur air juga tak haram, yang penting cepat keluar dari Jakarta. Pukul 05.00 WIB pada 17 Mei, seorang wanita asing dan bayi perempuannya dikawal menuju bandara dengan perlindungan diplomatik. Di setiap ujung jalan, sopir selalu memberikan sinyal yang sudah disepakati. Dan, serdadu yang bersembunyi di balik barikadenya membiarkan mobil itu lewat. Beberapa orang yakin bahwa pasukan-pasukan itu pasti sudah diberi tahu agar tidak berdiri dan tampak dalam keadaan siaga penuh. Sebab, para komandannya tentu cemas akan terjadi serangan yang mungkin dari pasukan lain. Pukul 10.00 WIB, pada 17 Mei, Prabowo mengunjungi rumah Hery Hartanto, mahasiswa Trisakti yang gugur ditembak pada aksi demo 12 Mei. Ketika orang tua Hery menatapnya, Prabowo mengangkat Alquran ke atas kepalanya dan bersumpah bahwa dirinya tidak memerintahkan pembunuhan di Trisakti itu. Ayah almarhum Hery, Sjahrir Muljo Utomo “yang juga seorang purnawirawan AD“ mengaku tak tahu pasti: percaya atau tidak mempercayai sumpah Prabowo itu. Ketika warga Jakarta mulai bersih-bersih, sekutu-sekutu Soeharto mulai kelimpungan mencari jalan menyelamatkan muka. Mereka pun berusaha meyakinkan Soeharto agar mundur. Para ketua parlemen (DPR) mulai berani bicara soal penyimpangan penguasa, tetapi meminta Soeharto mundur dengan jalan mereka adalah tidak konstitusional. Hal yang bisa mengancam munculnya konfrontasi antara militer dan parlemen Ketika tanda-tanda "pertentangan" itu dicemaskan terjadi, ketegangan muncul juga antara militer dan mahasiswa yang sudah merencanakan menggelar aksi masal sejuta orang pada 20 Mei. Wiranto memantapkan diri mendukung Soeharto. Namun, Wiranto juga meminta Soeharto membentuk kabinet baru dan melaksanakan reformasi Sementara itu, mahasiswa yang sudah makin berani setelah melihat Soeharto kian tak berdaya memutuskan siap menggelar aksi ke tempat yang telah memberikan amanah kepada Soeharto itu, apalagi kalau bukan gedung DPR/MPR. Mahasiswa demonstran gelombang pertama tiba diangkut kendaraan militer pada 19 Mei pagi hari. Mereka memakai jaket almamater dan menunjukkan identitas ketika melintasi pintu gerbang gedung wakil rakyat itu. Pukul 11.00 WIB, tidak seperti biasanya, Soeharto muncul di layar televisi nasional. Membaca naskah, sosok yang sudah 32 tahun memerintah Indonesia itu bersumpah siap meninggalkan kantor sesegera mungkin. Dia juga menjanjikan pemilihan umum baru dengan undang-undang yang baru pula untuk mengisi keanggotaan parlemen. Saat itu pula, Soeharto berjanji bahwa antara dia dan Habibie (saat itu Wapres) tidak akan mencalonkan diri untuk periode jabatan berikutnya. Untuk mewujudkan semua rencana itu, Soeharto akan membentuk sebuah dewan yang merumuskan arah reformasi politik. Tetapi, mahasiswa yang sudah menduduki parlemen bersumpah tidak akan pergi, kecuali bila Soeharto mau mundur. Malam itu, sekitar 3.000 mahasiswa tetap bertahan di area DPR/MPR. Mereka tidur di tenda-tenda atau di atas tikar plastik. Para penyokong aksi mahasiswa ini, yang umumnya kalangan menengah, memberikan dukungan berupa makanan dan air kemasan. Malam itu, menurut orang-orang dekatnya, Habibie menelepon Soeharto. Habibie mengungkapkan kecemasannya bahwa karier politik Pak Harto akan berakhir prematur pada esok hari yang sudah menjelang. Tetapi, Soeharto berjanji akan melaksanakan pemilu daripada menyerahkan jabatannya kepada wakil presiden seperti Habibie. Habibie, kata koleganya, sangat terluka. Dia yakin Soeharto tidak akan lama bertahan. Itulah satu-satunya pilihan saat itu. Sebab, cara-cara lain tampaknya sudah tidak rasional 21 MEI: Beberapa jam menjelang fajar, Jakarta tampak sebagai kota di bawah pendudukan. Ratusan tentara bersenjata senapan laras dan tank-tank ringan serta personel artileri melakukan patroli di ibu kota. Jalan-jalan menuju Monumen Nasional (Monas), tempat yang sudah diplot sebagai venue aksi sejuta massa pada 20 Mei, sudah diblokade dengan kawat berduri dan artileri berat. Tidak ada jalan lain, aksi masal itu pun dibatalkan Sore itu, Wiranto menyarankan kepada Soeharto bahwa satu-satunya cara konstitusional transfer kekuasaan adalah menyerahkan jabatan presiden itu kepada Wapres Habibie. Wiranto kemudian mengajukan tiga tuntutan kepada Habibie. Yakni, dia tetap sebagai panglima ABRI, lalu Habibie harus komitmen terhadap reformasi, serta jabatan Prabowo harus diganti. Tapi, kata sahabat dekatnya, Habibie sudah sekian lama mengenal Prabowo. Mereka berdua tinggal cukup lama di luar negeri. Mereka saling berbagi kepentingan dalam memajukan kepentingan muslim. Pendeknya, satu sama lain saling membutuhkan. Prabowo-lah yang banyak membantu Habibie bersahabat dengan para perwira senior Katakanlah, lanjut sumber tadi, dalam pekan genting itu Prabowo dan Habibie bekerja sama membujuk Soeharto agar mundur. Sebagai imbalan, Habibie siap memberi Prabowo jabatan kepala staf Angkatan Darat (KSAD). Pukul 09.00 WIB pada 21 Mei, lewat siaran televisi nasional, Soeharto mengumumkan lengser keprabon. Setelah tiga dasawarsa lebih memerintah Indonesia, dia meminta maaf kepada rakyat atas segala kesalahan dan kekurangan. Dan, Habibie tampak ragu-ragu sebelum diambil sumpahnya sebagai presiden ketiga sejak Indonesia merdeka Hampir tengah malam setelah pengunduran Soeharto, Prabowo muncul di Istana Kepresidenan dengan pasukan siap tempur. Berbekal pistol otomatis dan beberapa truk pasukan Kostrad yang sudah menanggalkan tanda resimennya, Prabowo menagih jabatan KSAD yang sudah dijanjikan Habibie. Saat itulah pengawal Habibie memanggil Wiranto dan Feisal Tanjung, mantan Pangab, ke istana. Feisal mengingatkan Habibie bahwa Prabowo adalah sosok yang terlalu bahaya bila harus memimpin AD. Kepada orang, Habibie kemudian hanya bisa berkata bahwa malam itu dia memang takut akan keselamatan nyawanya.

Habibie mengumumkan kabinetnya di 10:30 pada 22 Mei. Mahasiswa masih menduduki Gedung DPR, menuntut agar ia mengundurkan diri. Beberapa ribu anggota organisasi pemuda Muslim, pendukung Habibie dan dilindungi oleh pasukan Prabowo, tiba di kompleks sore itu. Konfrontasi itu tegang, tapi tidak berubah menjadi liar. Tengah malam, tentara berhasil menguasai kembali Gedung DPR. Militer mengumumkan pada 6 Juni bahwa mereka memecat dua komandan polisi dari Brimob yang tidak mematuhi perintah dan tidak mengendalikan pasukan mereka di Trisakti. Mereka menghadapi hukuman maksimum 28 bulan penjara. Lima belas tersangka lainnya menunggu pengadilan militer Kemudian Kapolri Jenderal Dibyo Widodo, membantah tuduhan pasukannya bertanggung jawab atas kematian empat siswa. Dia mengatakan pada 7 Juni: "Kami telah memeriksa dengan setiap perwira yang ditugaskan di sana dan memastikan bahwa tidak ada anggota kami menggunakan peluru tajam. Pada tanggal 24 Juni Wiranto memindahkannya, bersama dengan komandan militer, menyebutnya sebagai rotasi rutin. Orang dalam kepolisian mengatakan Kapolri kehilangan jabatannya karena ia menolak dituduh bertanggung jawab atas penembakan Tri Sakti. Setelah bertemu dengan empat orang tua mahasiswa Trisakti yang ditembak tsb selama 30 menit tanggal 22 Juni, Habibie menyebut almarhum sebagai "pahlawan reformasi. Di Mabes Polri, tiga mahasiswa Trisakti dan sekuriti resmi menjaga peluru yang diambil dari tubuh Hery Hartanto tanggal 7 Juni. Saat peluru diambil dari kotak besi untuk tes, tim merekam video, dan memberi tanda-tanda untuk memastikan peluru tersebut tidak ditukar kelak. Polisi berjanji untuk tidak membuka kotak besi tanpa perwakilan universitas di sana. Secara teoritis memang mungkin untuk mengidentifikasi senapan yang digunakan saat menembakkan peluru yang menewaskan Hartanto. Tapi dalam prakteknya mungkin tidak. Militer Indonesia memiliki lebih dari 2.000 senapan Steyr (senjata yang telah digunakan dalam pembunuhan) dan Militer menolak penyelidikan terbuka. Lagi pula sangat mungkin untuk membeli Steyrs di pasar gelap. Pihak berwenang telah menyita 21 senjata dari petugas yang bertugas tanggal 12 Mei tetapi belum menyerahkannya kepada penyidik.

Adnan Buyung Nasution, pengacara ternama dan seorang aktivis hak asasi manusia terkemuka, mengatakan: "Terlalu dini untuk membuat kesimpulan tentang siapa yang bertanggung jawab, dan militer telah berusaha membatasi penyelidikan." Dia mengatakan, berulang kali, bahwa persidangan telah "direkayasa." Hakim militer erat mempertanyakan kesaksian terdakwa, tapi saksi untuk penuntut jarang dilakukan. Ketidaksenangan hakim militer thd Buyung jelas. Ada kejadian dimana keduanya berteriak satu sama lain di pengadilan, memaksa penjaga keamanan di sekitar ruangan ikut melerai. Dan lebih dari sekali hakim mengancam akan mengusir Buyung dari persidangan. Pada tanggal 28 Mei, saat Prabowo ditugaskan sebagai pimpinan sekolah tentara di Bandung, ia mengatakan tuduhan laporan bahwa ia mencoba kudeta itu adalah "sampah, sampah, sampah." Tetapi seorang perwira senior militer mengatakan Suharto menolak untuk berbicara dengan Prabowo, bahkan ketika Prabowo mengunjungi ayah mertuanya pada tanggal 8 Juni, ulang tahun ke-77 Soeharto. Syafrie mengaku pada 13 Juni bahwa di Jakarta, beberapa kerusuhan itu "secara sporadis diorganisir" oleh kelompok. Syafrie, sebagai komandan militer di Jakarta saat kerusuhan, yang juga sekutu Prabowo, dipindahkan 24 Juni, setelah menjabat selama delapan bulan
Kepolisian Jakarta telah memanggil mantan narapidana dan preman Cina yang beralih menjadi pendakwah Islam untuk ditanyai tentang perannya dalam kerusuhan itu. Anton Medan berada di jalanan Jakarta 14 Mei, dia mengatakan ada di jalan untuk mencegah orang berbuat kekerasan, katanya. Sebuah sumber yang dekat dengan militer yakin Anton pernah ditawari uang untuk mengirim pengikutnya untuk membuat rusuh, tapi ia menolak. Sebab itu, menurut sumber tsb, itulah mengapa seseorang mengkambing hitamkan Anton Medan kepada pihak berwenang. Sejauh ini, dia adalah satu-satunya tersangka yang diserahkan pihak militer.
Angkatan bersenjata melakukan investigasi sendiri dan mengatakan tidak menemukan bukti perkosaan dan tidak ada korban pemerkosaan yang muncul menjadi saksi. Menteri Negara Urusan Wanita Tutty Alawiyah juga pada awalnya membantah bahwa perempuan diperkosa saat kerusuhan. Tapi pada tanggal 8 Juli ia membentuk tim wanita untuk membantu korban yang diserang. Clementino dos Reis Amaral, anggota Komisi Nasional Hak Asasi Manusia, tanggal 9 Juli memperingatkan adanya upaya menutup kasus ini dan beberapa korban pemerkosaan telah diperingatkan untuk tutup mulut. Komisi itu telah menyerukan penyelidikan independen atas kerusuhan penembakan dan pemerkosaan dan permintaan maaf resmi dari pemerintah.
Pada tanggal 13 Juli, Habibie membentuk tim untuk menyelidiki kerusuhan, yang termasuk Wiranto, Jaksa Agung dan , foreign and justice ministers . Keesokan harinya, Kepala Kepolisian Militer Mayjen. Syamsu Djalal mengatakan tujuh tentara Kopassus telah ditangkap atas penculikan aktivis prodemokrasi diculik awal tahun ini. Pada tanggal 15 Juli Habibie mengutuk kekerasan Mei.
Sebuah sumber yang dekat dengan militer mengatakan bahwa, pada awal Juli, 74 prajurit Kopassus menghilang dari barak mereka. Sumber tersebut yakin 74 prajurit tsb berada di jalanan Jakarta, mengumpulkan informasi dan menutupi jejak mereka. Dua aktivis hak asasi manusia, Pastor Sandyawan dan Ita Nadia, telah diperingatkan (dengan ancaman granat hidup) untuk mengakhiri penyelidikan mereka ke dalam kerusuhan dan perkosaan.

Thursday, 17 May 2012

Menikmati Lady Gaga

Apa yang bisa dilihat dari bulan ? Orang lapar melihat bulan bagai telur ceplok Orang kasmaran melihat wajah kekasihnya Lalu apa yang bisa dilihat dari Lady Gaga ?
Penilaian terhadap sesuatu ,biasanya bisa dikaitkan dengan latar belakang orang yang menilai. Orang yang setiap hari berkecimpung dengan seni ,melihat Lady Gaga sebagai seseorang yang bisa mendobrak batasan batasan seni pop selama ini. Orang yang bergerak dibidang event organizer tentu melihat Lady Gaga adalah sebuah kesempatan emas untuk mendulang uang.Nah kalau orang tiap hari ngeliat setan terus,ya melihat Lady Gaga adalah penjelmaan setan.Kalau yang tiap hari dipikirin cuma aurat,tentu yang di blow-up tentang Lady Gaga ya apalagi kalau bukan auratnya. Jadi nggak usah bingung tentang simpang siur tentang seorang Lady Gaga.Lihat saja sebagai seorang seniman yang sedang beraksi ....selesai kan. Jangan melihat moral hanya sebatas selakangan saja.

Thursday, 28 April 2011

Inilah Alasan kenapa studi banding DPR adalah pemborosan


#dukungdjokosusilo
Ada ciri yang sama dari tujuan studi banding: negara maju sangat cocok untuk kegiatan "sampingan", yakni berwisata. Kolega saya yang menjabat kepala perwakilan RI di negara-negara kurang maju, seperti Ethiopia, Zimbabwe, Sudan, Senegal, dan Nigeria, jarang menerima kunjungan rombongan. Tujuan utama kunjungan biasanya tiga wilayah, yakni Eropa Barat, Asia Timur/ASEAN/Australia, dan Amerika Utara.

MESKI tahun lalu sempat dihujat dan dikritik habis-habisan, tahun ini Dewan Perwakilan Rakyat akan kembali melanjutkan kebiasaan kunjungan kerja ke luar negeri, yang dianggap banyak pihak sebagai pemborosan. Kebiasaan yang sama dilakukan pejabat pemerintah-baik pusat maupun daerah-yang mempunyai hobi jalan-jalan ke luar negeri.

Pada umumnya, kunjungan kerja para pejabat ke luar negeri mempunyai tiga tujuan. Pertama, menghadiri konferensi, semacam Konferensi Tingkat Tinggi ASEAN, OKI, IPU, dan AIPO. Kedua, melakukan negosiasi untuk sebuah perundingan. Ini banyak dilakukan oleh tim Kementerian Luar Negeri, Kementerian Perdagangan, Badan Koordinasi Penanaman Modal, dan lain-lain. Termasuk dalam kategori ini pengiriman misi perlindungan warga negara di luar negeri. Ketiga, kunjungan studi banding. Kelompok terakhir inilah yang menjadi masalah dan perlu mendapat perhatian serius. Sebab, kebanyakan studi banding sebenarnya merupakan acara tamasya yang dibiayai dinas.

Dalam setiap kunjungan kerja, sedikitnya tiga pihak terlibat, yakni instansi yang mengirim rombongan, Kedutaan Besar Republik Indonesia yang mengatur kegiatan selama di suatu negara, dan instansi negara penerima. DPR termasuk "pemasok" kegiatan kunjungan kerja yang cukup tinggi. Dalam setahun, seorang anggota Dewan rata-rata melakukan dua-tiga kali perjalanan dinas ke luar negeri, bahkan lebih, bergantung pada keterlibatannya di panitia khusus, komisi, atau badan-badan di Senayan.

Karena menjadi salah satu "pemasok" yang tinggi, wajar jika DPR menjadi sorotan, walau, sekali lagi, Dewan bukan satu-satunya lembaga yang mempunyai program kunjungan ke luar negeri. Tingginya program ke luar negeri dari banyak instansi di Indonesia bisa dilihat dari kesibukan perwakilan-perwakilan RI di luar negeri. Mereka terpaksa menempatkan staf lokal khusus mengurus tamu di bandara.

Kita bisa melihat betapa sibuknya Kedutaan RI di Bangkok, Kuala Lumpur, Singapura, Den Haag, dan banyak negara lain. Dalam setahun, rata-rata bisa menerima 4.000-5.000 delegasi resmi-yang dimaksudkan resmi ialah rombongan yang memberi tahu kedutaan dengan mengirim kawat. Jadi, dalam sehari kedutaan menerima rata-rata 10-15 rombongan resmi.

Kesulitan kedutaan bukan hanya menerima banyaknya anggota rombongan. Kadang-kadang ada dua rombongan dengan tujuan ke instansi sama tapi datang pada hari berbeda. Misalnya, pada pekan pertama datang rombongan Panitia Khusus Rancangan Undang-Undang Perbankan untuk bertemu dengan asosiasi perbankan di suatu negara. Pekan berikutnya datang Panitia Khusus RUU Keuangan ingin berdialog dengan asosiasi yang sama. Ini sangat merepotkan. Sebab, sulit sekali kedutaan menjelaskan kepada mitra kerja di negara itu bahwa dua rombongan itu dari panitia khusus yang berbeda.

Ada ciri yang sama dari tujuan studi banding: negara maju sangat cocok untuk kegiatan "sampingan", yakni berwisata. Kolega saya yang menjabat kepala perwakilan RI di negara-negara kurang maju, seperti Ethiopia, Zimbabwe, Sudan, Senegal, dan Nigeria, jarang menerima kunjungan rombongan. Tujuan utama kunjungan biasanya tiga wilayah, yakni Eropa Barat, Asia Timur/ASEAN/Australia, dan Amerika Utara.

Dalam banyak kesempatan, terkadang rombongan tanpa malu-malu mengatakan akan lebih banyak berwisata daripada melakukan kunjungan sesungguhnya. Tahun lalu saya nyaris menolak serombongan dari dewan perwakilan rakyat daerah sebuah provinsi di Sumatera. Sebab, dalam surat yang dikirim ke Kedutaan Besar RI di Bern, mereka hanya mengalokasikan waktu enam jam untuk kunjungan kerja selama enam hari.

Saya langsung memberi instruksi: tidak usah diurus rombongan Dewan yang hanya mau berwisata. Silakan jalan sesukanya di Swiss, tapi Kedutaan tidak akan menstempel formulir surat perintah perjalanan dinas-bukti pertanggungjawaban penggunaan dana untuk perjalanan itu.

Bahwa kebanyakan kunjungan kerja selama ini hanya jalan-jalan memang bukan cerita bohong. Umumnya satu instansi menyusun alokasi anggaran untuk tujuh hari. Nyatanya, waktu pertemuan resmi hanya dua hari-paling lama empat jam setiap harinya, dua jam pagi hari dan dua jam sore. Selebihnya "free time", yang sering disamarkan dengan "kegiatan pendalaman" untuk masing-masing anggota. Tidak jelas yang dimaksudkan dengan "pendalaman". Yang banyak terjadi, anggota rombongan jalan-jalan sepanjang hari. Masih lumayan kalau ada anggota minta diantar ke toko buku, karena sangat jarang mereka punya hobi baca buku.

Ada juga rombongan aneh dan tidak masuk akal. Misalnya, banyak rombongan ke Eropa masuk melalui Prancis. Tapi mereka melakukan kunjungan pada musim panas. Padahal, pada saat itu, mayoritas warga Eropa meninggalkan negaranya untuk liburan panjang. Akhirnya anggota Dewan yang terhormat hanya diterima pejabat sekretariat-bukan mitra kerja yang sesuai.

Sangat wajar jika sekarang banyak tuntutan agar DPR-juga instansi pemerintah-memperbaiki pelaksanaan kunjungan kerja. Bahkan, kalau perlu, studi banding dihentikan sama sekali. Mengapa? Karena perbandingan antara biaya dan hasilnya sangat tidak berimbang. Ambil contoh, untuk perjalanan ke Eropa, seorang anggota memerlukan sekitar US$ 10 ribu. Rata-rata rombongan terdiri atas 13 orang dan dua anggota staf sekretariat. Jadi, untuk satu tim kunjungan kerja, dibutuhkan biaya paling tidak US$ 150 ribu.

Dalam pertemuan dua jam dengan instansi tujuan, tidak semua anggota berkesempatan bertanya atau berdiskusi. Apalagi jika ada kendala bahasa, misalnya ke negara non-bahasa Inggris. Akan lebih efektif jika pemimpin lembaga di Indonesia-baik DPR, DPRD, Dewan Perwakilan Daerah, maupun instansi pemerintah-lebih memanfaatkan kedutaan. Misalnya kedutaan diminta mencari informasi yang diperlukan.

Terus terang saja, jika panitia khusus, komisi, DPRD, atau instansi lain bersedia memanfaatkan kedutaan, akan terjadi efisiensi yang luar biasa. Kualitas informasi yang diperoleh juga pasti lebih bagus. Dari pengalaman mengikuti kunjungan sewaktu masih menjadi anggota Dewan, dan kini mengatur kedatangan kunjungan, saya menyimpulkan, kebanyakan informasi yang diperlukan bisa diperoleh jawabannya lewat kedutaan. Jadi buat apa menghabiskan banyak uang untuk kunjungan yang kurang produktif?

Cara lain adalah mengundang pakar dari luar negeri ke Tanah Air. Banyak lembaga nonpemerintah atau mitra kerja luar negeri yang mau membiayai kedatangan pakar ini. Atau, kalau harus membiayai sendiri, masih jauh lebih murah daripada mengirim rombongan studi banding ke luar negeri. Perkiraan saya, US$ 10 ribu sudah cukup untuk mendatangkan pakar bidang apa pun ke Indonesia.

Tentunya pemimpin Dewan Perwakilan Rakyat atau Dewan Perwakilan Daerah bisa lebih selektif dalam mengeluarkan izin perjalanan. Misalnya, izin diberikan jika semua rancangan acara sudah beres dan diperkirakan bisa benar-benar produktif. Selama ini pemimpin Dewan memberikan izin perjalanan kepada panitia khusus atau komisi. Baru kemudian sekretariat bergerak mengatur acara. Dengan demikian, kontrol atas program acara hampir tidak ada, atau sangat lemah.

Sebagai pemimpin Kedutaan Besar Republik Indonesia di Bern, saya mewajibkan setiap kunjungan kerja ke Swiss memanfaatkan 70-80 persen waktu untuk acara resmi. Kurang dari alokasi itu, sebaiknya kunjungan ditunda atau dibatalkan. Masalahnya, mau tidak kita mengubah kebiasaan tamasya dengan alasan perjalanan dinas menjadi kunjungan kerja sebenarnya?

*Duta Besar RI di Swiss; tulisan ini merupakan pendapat pribadi.

dikopas dari sini

Wednesday, 27 April 2011

Dukung Djokosusilo


#dukungDjokosusilo
Studi Banding DPR 90% tidak bermanfaat! Pernyataan keras dari Dubes Indonesia untuk Swiss ini langsung mendapat reaksi keras dari kalangan DPR ,yang merasa dilecehkan.

Suara DPR untuk mendesak Presiden SBY menarik Djoko Susilo dari kursi duta besar Swiss sudah bulat. Bila langkah itu tidak ditempuh, DPR menganggap pemerintah sama saja dengan melecehkan lembaga legislatif.

Desakan itu, menurut Ketua DPR Marzuki Ali, karena DPR merasa kritikan Djoko soal kunjungan kerja para wakil rakyat ke luar negeri sudah berada di luar kewenangannya sebagai seorang duta besar.

“Saya dukung, malah agak lebih ekstrim lagi ya. Menlu harus menegur keras dan menindak duta besarnya itu. Kalau tidak ditarik itu sama saja dengan pelecehan terhadap DPR. Ingat lho DPR itu lembaga negara yang sejajar dengan presiden,” tegas Marzuki menjawab matanews.com, Selasa 26 April 2011.

Marzuki menilai, tugas seorang duta besar adalah sebagai wakil negara untuk di luar negeri, bukannya malah mengurusi para representatif rakyat dalam negeri. Meskipun Djoko pernah menjadi anggota DPR, sambung politisi Partai Demokrat itu, bukan berarti dia berhak mengeritisi DPR periode sekarang.

“Memang dia juga sudah pernah di DPR, tapi kan kondisinya sudah lain antara DPR masa dia dengan yang sekarang. Tugas-tugasnya pun berbeda,” terang Marzuki.

Menurutnya, tak selalu kunjungan ke luar negeri itu buruk. Marzuki menerangkan bahwa terkadang ada beberapa tugas yang dilakukan demi memenuhi panggilan dari negara yang mengundang para wakil rakyat dan ada pula undangan yang tak bisa ditolak.

Misalnya kunjungannya ke China, baru-baru ini, dalam rangka memenuhi undangan dari perdana menteri dan ketua parlemen negara tirai bambu tersebut. Namun, pada saat yang hampir bersamaan itu pula, Marzuki mendengar kritikan Djoko soal kunker DPR ke luar negeri. Karenanya sebagai Ketua DPR, dia merasa tersinggung.

“Nggak enak juga saya mendengarnya waktu sedang berada di China. Itu pun sebetulnya bukan urusan dia. Pak Djoko tidak tepat posisinya mengeritik kita, dia kan di pemerintahan jauh di bawah levelnya dan nggak tahu persis kerja DPR apa saja,” tutupnya.

Sebelumnya Djoko mengeritisi kunker DPR ke luar negeri karena dianggapnya sering tidak tepat waktu dan sasaran yang ingin dicapai tidak jelas.

“Misalnya berkunjung ke negara-negara di Eropa pada musim panas. Padahal, pada waktu itu anggota Dewan di Eropa sedang masa reses dan tidak ada di tempat,” ujar Djoko.

Menanggapi pernyataan tersebut, Wakil Ketua DPR bidang Politik dan Keamanan Priyo Budi Santoso meminta agar SBY segera menarik Djoko dari Kedutaan Besar RI di Swiss. Alasannya karena mantan anggota dewan dari Fraksi PAN itu dianggap tak layak mengeritik DPR.

“Kalau yang mengeritik masyarakat atau LSM, itu bisa diterima,” imbuh Priyo.

Lho bukannya selama ini banyak LSM dan anggota masyarakat yang mengkritisi kunjungan keluar negri dalam rangka studi banding? Dan tak pernah ada suara yang menolak kalau memang DPR mendapat undangan dari negara lain .Politisi memang pintar membolak balik fakta .
Untuk itu mari #dukungDjokoSusilo agar para dubes lain mengikuti jejak beliau

Sunday, 10 April 2011

Vicky Vette ,bintang porno asal Norwegia si pengirim email kepada Arifinto?


Bintang film porno asal Norwegia ,disebut-sebut sebagai pengirim email kepada Arifinto ,Anggota DPR yang tertangkap kamera sedang nonton film bokep.

TEMPO Interaktif, Jakarta - Dalam akun twitternya, @vickyvette, bintang film panas asal Norwegia, Vicky Vette mengaku dialah pengirim surat elektronik berisi video panas ke anggota Dewan Perwakilan Rakyat Indonesia dari Fraksi Partai Keadilan Sejahtera, Arifinto.
Berita terkait

"I am super happy that Mr Arifinto got my email ... I sent him my best pictures :)," tulis Vette, 46 tahun. Perempuan dengan ukuran payudara 36DD ini menulis komentarnya sekitar tiga jam lalu.Dia tidak menunjukkan bukti bahwa memang dialah pengirim email berisi adegan hot itu, tidak juga memberitahu benarkah dia tahu email Arifinto. Vicky memang gemar mengomentari isu-isu panas di Indonesia yang sedang menjadi pembicaraan di Twitter.

Sebelum berkarir sebagai pengumbar syahwat, Vette mengaku bekerja sebagai akuntan. Sebagai bintang model dan bintang film pemuas syahwat, Vette sudah dua kali mendapatkan penghargaan, yakni AVN Award (2005), dan Booble Girl of the Year (2008).

Arifinto, tertangkap kamera juru foto Media Indonesia, Muhammad Irfan, tengah menonton video porno saat mengikuti rapat paripurna Jumat lalu. Arifinto yang berasal dari daerah pemilihan Jawa Barat II terlihat tengah asyik membuka video porno dari komputer I Pad miliknya saat Ketua DPR Marzuki Alie menyampaikan penutupan masa sidang ketiga tahun 2010-2011.

Menurut Irfan, ia tertarik saat Arifinto membuka I Pad-nya. "Saya zoom, koq ada gambar seperti itu," ujarnya. Ia mengaku sempat melihat anggota dewan komisi 5 ini memilih-milih beberapa video itu. "Terus dia buka salah satunya," cerita Irfan. Menurut Irfan, Ari pun sempat melihat video itu selama sekitar satu menit. "Habis itu ditutup," ujarnya.

Arifinto berdalih membuka komputer tablet miliknya karena ada surat elektronik masuk. "Ada link, saya penasaran, ketika dibuka, gambarnya begituan dan saya hapus," ujarnya.

Kalau membuka link dari email, akan membuka tampilan website, bukan tampilan folder seperti yang terlihat di foto si fotografer.
Jadi memang bener kata si fotografer, bahwa Arifinto memang membuka folder, yang tentunya sudah tersimpan di gadget tsb. Bukan membuka link website
Kalau anda pakai Samsung Galaxy Tab dari halaman depan, klik Applications, lalu masuk menu Video



Anda bisa lihat tampilannya sama persis dengan tampilan di foto tsb.

Video2 yang tersimpan di menu tersebut adalah video yang sudah ada dalam gadgetnya, bukan berupa online thumbnail seperti tampilan di kebanyakan website2 porn/tube

-

Friday, 8 April 2011

Chaiyya-chaiyya ternyata juga soundtrack film Inside Man

#Chaiyya-chaiyya yang dipopulerkan Briptu Norman Kamaru ternyata juga soundtrack film Inside Man.
Ada kisah unik dan pesan di balik lagu tersebut yang berkaitan dengan isu kekinian di tanah air.

Mungkin Norman sendiri dia belum menyadari sejarah lagu kesukaannya tersebut. Lagu tersebut dipakai sebagai soundtrack film "Inside Man" yang dirilis akhir tahun 2006 lalu. Film ini dibintangi oleh Denzel Washington, Clive Owen, Jodie Foster dan Willem Defoe, yang di sutradaranya oleh Spike Lee.


alur cerita film ini adalah tentang perampokan bank dan penyanderaan. Yang ujungnya adalah mengungkap kejahatan masa lalu seorang bankir top New York, yaitu kejahatannya jaman Nazi yang membantai Yahudi. Bankir ini mengkhianati teman Yahudinya ke Nazi dan menyimpan berlian Cartier milik temannya tersebut.

Clive Owen yang berperan sebagai perampok bank yang membongkar bukti ini dan memberi pesan ke Denzel (sebagai detektif polisi) "Follow the ring".

Wednesday, 6 April 2011

Kasus Malinda menyangkut beberapa perwira tinggi?


Seorang pengusaha berspekulasi, bahwa para nasabah yang menjadi "korban" Malinda memang tidak akan pernah diungkapkan karena secara politis sangat sensitif. Politis?

Seorang jenderal mengaku menjadi korban Malinda Dee, tapi jenderal yang lain menolak. Begitu juga yayasan milik orang-orang dekat Soeharto.


Dari harta benda Malinda Dee yang disita polisi, antara lain tercatat ada mobil Ferrari F430 Scuderia seharga Rp 7 miliar, Ferrari California [Rp 5 miliar], dan Hummer H3 SUV Luzury [Rp 3,4 miliar]. Kata polisi, Malinda Dee juga memiliki enam apartemen. Anaknya yang bersekolah di Australia, tinggal di apartemen yang dibeli oleh Malinda Dee.

Tapi Malinda Dee yang bekerja selama 22 tahun di Citibank, memang bukan karyawan biasa. Dia salah satu manajer yang dibayar hingga Rp 74 juta sebulan. Itu tak termasuk bonus Rp 250 juta yang diberikan setiap sekali tiga bulan. Artinya penghasilan Malinda Dee, bisa mencapai Rp 1,8 miliar per tahun.

Semula, polisi menyatakan, Malinda Dee menggelapkan dana nasabah Citibank Rp 17 miliar. Belakangan, muncul revisi dari polisi, dana yang diduga digondol Malinda Dee mencapai Rp 20 miliar meski soal jumlah pastinya masih simpang-siur.

Ada yang menyebutkan, dana nasabah Citibank yang dijebol Malinda Dee mencapai Rp 270 miliar. Ada yang percaya, jumlahnya mencapai US$ 100 juta karena jumlah nasabah utama Citibank yang ditangani Malinda Dee mencapai 500 orang. Jika US$ 1 adalah Rp 10 ribu, maka Malinda Dee, paling sedikit membawa kabur dana nasabah Rp 1 triliun.

Sejauh ini, polisi mengaku belum tahu, dari [nasabah] mana saja, uang yang mengalir ke rekening Malinda Dee. Kata polisi, baru tiga nasabah yang menjadi korban Malinda Dee yang melapor ke polisi. Siapa? Polisi tak mau menjelaskan.


Koran Tempo hari ini memberitakan, Irjen Budi Gunawan, Kepala Propam Polri mengaku sebagai salah seorang korban Malinda Dee. Pengakuan Budi tentu mencengangkan, karena inilah pengakuan pertama dari nasabah Malinda Dee. Tapi Budi, mungkin bukan satu-satunya jendera; yang "berurusan" dengan Malinda Dee.

Ayah perwira
Di luar pekerjaannya di Citbank, beberapa media menyebut Malinda Dee menjadi investor di PT Sarwahita Group. Itu adalah holding untuk beberapa perusahaan, termasuk PT Axcomm Infotec Centero, sebuah layanan SMS premium dan penyedia layanan konten. Kantornya di Menara Anugerah, Mega Kuningan, Jakarta Selatan tapi situs sarwahita.com, sudah tidak bisa diakses.

Di Sarwahita, Malinda Dee tercatat sebagai salah satu komisaris. Dan sebuah media lokal di Riau memberitakan, Presiden Komisaris Sarwahita adalah Marsekal Madya TNI, Rio Mendung Thalieb.

Rio kini adalah wakil gubernur Lembaga Ketahanan Nasional atau Lemhanas. Sebelum ke Lemhanas, Rio adalah gubernur Akademi Angkatan Udara. Ayah Malinda Dee adalah juga perwira pensiunan TNI Angkatan Udara.

Melalui Rio, Sarwahita pernah meneken kesepatakan investasi pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Diesel berbahan bakar biofuel dengan kapasitas 20 megawatt di Kabupaten Rokan Hulu, Riau pada 29 Oktober 2010. Tapi Mabes Polri jauh-jauh hari sudah membantah keterlibatan Rio dalam kasus Malinda Dee.

Sarwahita juga memiliki kerjasama dengan Yayasan Damandiri. Yayasan ini diurus oleh Haryono Suyono dan Subiakto Tjakrawerdaja, eks menteri di zaman Soeharto, tapi yayasan itu juga menolak dihubungkan dengan kasus Malinda Dee.

Pertanyaannya adalah, jika benar Malinda Dee menggelapkan dana nasabah Citibank, mengapa para korban tidak ada yang mengaku dan hanya tiga korban yang mau melapor ke polisi [itu pun dirahasiakan oleh polisi]?

Lalu seorang pengusaha berspekulasi, bahwa para nasabah yang menjadi "korban" Malinda memang tidak akan pernah diungkapkan karena secara politis sangat sensitif. Politis?

Itu yang sulit dimengerti. Sama halnya dengan pertanyaan mengapa kasus Malinda Dee lalu tiba-tiba mencuat dan menjadi isu nasional.

Tapi andai spekulasi pengusaha tadi benar, maka berharaplah kasus Malinda Dee hanya akan menjadi isu, atau mungkin cuma menjadi gosip seperti kasus Gayus. Selesai lalu dilupakan orang. Besok atau lusa, entah siapa lagi yang akan menggantikan Malinda dan Gayus menjadi isu nasional.






dikopi dari tulisan Rusdi Mathari

Sunday, 3 April 2011

Inilah modus Malinda Dee membobol dana nasabah Citibank


BERMODAL kepercayaan dan blangko kosong, Malinda menggangsir duit nasabah premiumnya. Sebelumnya, dengan alasan untuk kemudahan, jauh hari, si nasabah diminta meneken blangko kosong itu. Inilah sebagian modus Senior Relationship Manager Citibank itu mengeruk pundi-pundi nasabahnya.

TERBONGKARNYA kejahatan Malinda berawal dari laporan seorang nasabah ke pimpinan Citibank, pertengahan Januari lalu. Nasabah itu, seorang perwira tinggi polisi. Kepada petinggi Citibank, nasabah itu mencak-mencak lantaran simpanan Citigold-nya telah dijebol. Jumlahnya miliaran rupiah. Setelah ditelusuri, perwira polisi ini rupanya nasabah Malinda saat menjadi relationship manager di Citibank cabang Landmark, Jakarta Selatan.

Dari hasil pemeriksaan, selama 22 tahun Malinda bekerja di Citibank, ada 500-an nasabah Citigold yang ditanganinya. Sebelum akhirnya ditarik ke kantor pusat setahun terakhir, sebagian besar karier ibu tiga anak ini dihabiskan di kantor Landmark. Manajemen Citibank menghubungi beberapa nasabah untuk memastikan kejadian yang dialami perwira polisi itu tidak menimpa yang lain. Setelah investigasi sebulan, ternyata ada ratusan nasabah yang mengklaim dananya hilang tak jelas. Jumlah totalnya mencapai Rp 90 miliar. Februari lalu, Malinda langsung dipecat.

Dari penelusuran tim investigasi internal, menurut seorang karyawan Citibank, modus yang digunakan Malinda beragam. Karena nasabahnya kelas premium, pelayanan untuk kalangan ini pun dibuat serba mudah. Mereka tak perlu menginjakkan kaki ke bank. Relationship manager akan menelepon atau mendatangi mereka.

Nasabah yang telanjur percaya biasanya lantas ambil gampang. Semua blangko transaksi sudah diteken jauh-jauh hari sebelumnya. Saat akan me lakukan transaksi, nasabah cukup menelepon relationship manager-nya. Nah, Malinda salah satunya. "Tanda tangannya juga kerap di atas punggung Malinda," ujar karyawan itu.

Malinda menggasak duit nasabahnya bermodal blangko kosong yang sudah diteken itu. Malinda biasanya memang tak sungkan merayu nasabahnya. Dengan pe nampilannya yang menawan, tampak nya banyak klien Malinda yang "ber tekuk lutut" terbuai rayuan Malinda.

Dengan blangko kosong itulah, Malinda membujuk nasabahnya menanamkan dana ke produk investasi. Yang ditawarkan biasanya asuransi. Produk asuransi dipilih karena ia memiliki perusahaan asuransi di bilangan Kuningan, Jakarta Selatan. Malinda juga menjadi agen "terselubung" perusahaan asuransi ternama. Perusahaan ini tak lain perusahaan reasuransi yang menjamin klaim asuransi di perusahaannya.

Setelah nasabah setuju, Malinda menulis jumlah dana yang hendak diinvestasikan. Dari sini, aksi tipu-tipu dimulai. Duit tak diinvestasikan Malinda. Melalui teller Dwi, duit itu disetor atau dipindahbukukan ke 12 rekeningnya. Untuk laporan ke nasabah, ia menciptakan laporan fiktif. Blangko asuransi yang digunakan kerap memakai klaim asuransi perusahaannya atau perusahaan reasuransi tempat ia, diam-diam, menjadi agen. Modus yang juga kerap ia pakai adalah menggunting dalam lipatan. Malinda menyetor atau memindahbukukan isi rekening nasabah tanpa setahu mereka.

Awal Maret lalu, investigasi internal Citibank rampung. Bagian Kepatuhan dan Pengawasan Citibank melaporkan penyimpangan ini ke Direktorat Pengawasan Bank Indonesia. Sepekan kemudian, Citibank melaporkan kasus itu ke polisi. Namun hanya tiga nasabah yang dilaporkan mengalami kerugian. "Karena cuma tiga itu yang bersedia," ujar seorang penyidik.

Polisi pun bergerak. Sebanyak 13 saksi, sebagian besar dari Citibank, langsung diperiksa. Dari sini polisi mengantongi barang bukti berupa blangko kosong yang sudah diteken nasabah Malinda. Kendati nasabah yang melapor tiga orang, Kepala Divisi Humas Markas Besar Polri Inspektur Jenderal Anton Bachrul Alam yakin korban Malinda masih banyak. Korban Malinda juga meliputi sejumlah petinggi

Menurut Country Corporate Affairs Head Citibank Indonesia Ditta Amahorseya, Citibank menjamin mengganti seluruh dana nasabah yang hilang akibat transaksi tidak sah yang dilakukan nasabahnya. Ditta menegaskan, kasus seperti Malinda hanya terjadi di satu cabang, yaitu cabang Landmark. Dengan alasan kasusnya tengah disidik kepolisian, Ditta enggan menjawab soal modus yang digunakan Malinda.


Juru bicara Bank Indonesia, Difi Ahmad Johansyah, mengatakan sistem bank secara umum sudah dibuat dengan sistem perlindungan nasabah yang ketat. Dalam kasus Citibank, kata Difi, Malinda adalah "oknum".

Adapun Malinda sendiri tampaknya tak mengira aksinya ini bakal terbongkar. Seorang penyidik bercerita, awalnya Malinda keukeuh membantah melakukan kejahatan seperti yang dituduhkan kepadanya itu. Belakangan, setelah terus diinterogasi, ia akhirnya menyerah. Anton Bach rul Alam juga mengakui soal itu. "Belakangan akhirnya dia mengaku juga," kata Anton.




Ringkasan modus pembobolan dana nasabah Citibank oleh Malinda

Blangko kosong pencairan dana diteken nasabah.
Malinda membujuk nasabahnya membeli produk investasi, terutama asuransi.
Nasabah setuju, biasanya cukup lewat telepon.
Malinda mengisi blangko kosong itu dengan sejumlah dana yang disetujui nasabah.
Malinda mengisi blangko kosong itu dengan sejumlah dana tanpa setahu nasabah.
Karena dokumen lengkap, manajemen Citibank menyetujui pencairan dana.
Karena dokumen lengkap, manajemen Citibank menyetujui transaksi yang diajukan Malinda.
Malinda meminta Dwi menarik atau memindahbukukan duit dari rekening nasabahnya itu.
Malinda mendatangi teller "langganannya" bernama Dwi.
Melalui Dwi, duit berpindah ke 12 rekening bank lain atas nama Malinda, perusahaan asuransi milik Malinda, dan rekening dua anaknya.
Malinda mengirim bukti investasi asuransi fiktif ke nasabah.
Nasabah belakangan tahu rekeningnya dijebol.











sumber disini

Wednesday, 30 March 2011

AKIBAT ITUNYA DIPAKAI SEMBARANGAN



Surat untuk Yth Bpk Tifatul Sembiring
Dengan hormat,
Dengan menjaga segala bentuk sopan santun yang bisa saya pikirkan, saya ingin menyampaikan surat ini kepada bapak, dan akan terus mencoba sampai bapak membaca dan memberikan komentar. Sebagai orang yang berpendidikan dan mempunyai jabatan, saya rasa bapak pasti akan memberikan jawaban kepada saya , yang notabene adalah rakyat Indonesia biasa, pendidikan seadanya, tapi minimal saya punya hati nurani .

Bapak yang baik,
Saya ingin menanyakan satu hal yang terjadi beberapa waktu yang lalu . Bukan terlambat , tapi saya sebagai orang beragama dan berpendidikan , diajarkan untuk mendinginkan diri dulu, bicara tanpa emosi dan menggali data dengan benar sebelum bertanya . Sehingga jangan sampai ada kalimat sembarangan keluar dari mulut saya dengan emosi .

Bapak yang baik,
Ingatkah bapak bahwa beberapa saat yang lalu anda berbicara mengenai AIDS di twitter dan mengatas namakan penyebabnya adalah :
” AKIBAT ITUNYA DIPAKAI SEMBARANGAN ” ???
Kalau bapak lupa , bisa saya ingatkan karna tidak lama kemudian bapak kembali mengulang hal itu saat melakukan wawancara dengan Detik .

Bapak yang baik,
Kapankah terakhir kalinya bapak menginjak bangku sekolah ?
Andaikan terlalu jauh untuk bapak mengerti mengenai penyebab - penyebab penyakit tersebut,
pernahkah bapak mendengar yang namanya Hak Azazi, sopan santun ,empati dan PERASAAN?

Bapak yang baik,
Dimata orang awam seperti saya, andalah orang yang harus nya bisa memberikan saya info dan masukan dan bimbingan .
Tapi tidak masalah kalau memang ternyata anda tidak pernah diajarkan dimanapun atau tidak pernah menemukan akses untuk bisa mendapatkan data tentang AIDS .

Marilah kalau begitu, saya yang memberikan anda sedikit masukan .

1 . Sebutlah mereka ODHA , Orang dengan HIV Aids .
2 . Sebutlah mereka sahabat pak, karna mereka adalah sahabat .
3 . Itu nya itu apa pak ? Mulut nya dipakai sembarangan ? Oh maaf . Kita tidak sedang membicarakan anda .
4 . Saya mempunyai beberapa orang teman yang hidup sebagai ODHA ,dan mereka perawan pak. Saya sharing info sedikit, hal tersebut bisa kita dapatkan dari orang tua kita . Bukan dari ITU!
5 . Saya punya banyak teman ODHA dan masih perawan juga pak , justru dengan persentase lbh besar , mereka tertular melalui jarum suntik pak , bukan dari ITU !!!
6 . Apakah anda tahu bahwa kita bisa berciuman sekalipun dengan ODHA , dan tetap tidak tertular selama kita tidak ada luka terbuka ?
7 . Apakah anda tahu bahwa kita bisa berhubungan badan dengan seorang ODHA dan berkurang resiko tertularnya dengan benda yang disebut sebagai kondom ?
8 . Tahukah anda bahwa ada banyak cara lain tertular selain melalui ITU ?? Ataukah cuma itu yang ada di kepala bapak ?

Banyak sekali lembaga diluar sana yang sangat terbuka untuk memberikan info mengenai HIV Aids .

Bapak yang baik, apakah pemmbicaraan ini tabu dan haram untuk anda ?
Seharam menyentuh seorang wanita kecuali itu adalah ibu negara dari negara adidaya ?

Bapak yang baik,
Pernahkah anda berpikir bahwa tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini kecuali memakan kepala sendiri ?
Pernahkah anda berpikir bahwa suatu hari , salah satu anggota keluarga anda mungkin saja mengalami hal ini ?
Pernahkah anda bayangkan rasanya disaat itu , orang menunjuk keluarga anda dan cuma berkata ” ITU NYA SIH DIPAKE SEMBARANGAN !!! ”

Bapak yang baik,
Mengertikah anda kata empathy atau simpati … ataukah anda sama tidak mengertinya seperti anda tidak mengerti gejala dan penyebab penyakit HIV Positif?

Bapak yang baik,
Kalau mereka dianggap buruk karena tidak bs menjaga tubuhnya , apakah bedanya mereka dengan orang lain yang tidak bervirus bakteri tapi memakan lemak setiap hari bak pejabat rakus dan harus sakit - sakitan karena kerakusannya ? Sama pak .
Sehingga saat kita tidak menjaga tubuh ,makan, mulut dengan baik, kita sama - sama mengidap pnyakit itu dengan cara yang berbeda ?

Bapak yang baik,
” Siapakah yang memberi hak kepada anda untuk menilai orang lain , dan siapakah yang pernah menunjuk anda atau memberikan anda derajat yang lebih tinggi dari orang lain ?”

Bapak yang baik,
Tahukah anda bahwa Baik Presiden maupun abang becak itu sama kedudukannya di mata TUHAN ??

Bapak yang baik,
pernahkah bapak berpikir bahwa semua orang pasti disaat nya melakukan pilihan yang salah , atau kadang tidak mempunyai pilihan sama sekali ?
Sama seperti mereka yang menjadi ODHA tanpa pilihan ?
Sama seperti mereka yang pernah berbuat salah dan kini sudah menyesal dan menerima tanpa harus diingatkan dan dihina lagi ?
Bukankah itu makna agama ?
Bukankah akar dari semua agama harusnya adalah KASIH ?

Bapak yang baik,
Satu pesan yang diajarkan orang tua, keluarga, suami, sahabat dan agama saya adalah :
jangan hidup bak Tong Kosong Nyaring Bunyinya .

Jangan mengatakan sesuatu tanpa berpikir .
Jangan pernah menganggap diri kita lebih baik dari orang lain, karna kita TIDAK lebih baik .

Bapak yang baik,
terima kasih atas waktunya …
Saya akan menanti komentar bapak atau ajakan diskusi bapak sebagai seorang pejabat, seorang bapak, seorang yang saya harapkan bisa saya pandang di Indonesia .

Jawablah dengan cerdas .

Hormat saya
Melanie Subono






dikopi dari sini

Friday, 11 March 2011

Inilah salinan Headline The Age :Yudoyono Abused Power




HEADLINE THE AGE (AUSTRALIA): ‘YUDHOYONO ABUSED POWER’
Yudhoyono ‘abused power’
Author: By PHILIP DORLING
Date: 11/03/2011
Words: 626
Source: AGE Publication: The Age
Section: News
Page: 1
SECRET US diplomatic cables have implicated Indonesian President Susilo Bambang Yudhoyono in substantial corruption and abuse of power, puncturing his reputation as a political cleanskin and reformer.
The cables say Mr Yudhoyono has personally intervened to influence prosecutors and judges to protect corrupt political figures and pressure his adversaries, while using the Indonesian intelligence service to spy on political rivals and, at least once, a senior minister in his own government.
They also detail how Mr Yudhoyono’s former vice-president reportedly paid millions of dollars to buy control of Indonesia’s largest political party, and accuse the President’s wife and her family of seeking to enrich themselves through their political connections.
The revelations come as Indonesian Vice-President Boediono visits Canberra today for talks with acting Prime Minister Wayne Swan and discussions with officials on administrative change to reform Indonesia’s corrupt bureaucracy.
The US diplomatic reports obtained by WikiLeaks and provided exclusively to The Age say that soon after becoming President in 2004, Mr Yudhoyono intervened in the case of Taufik Kiemas, the husband of former president Megawati Sukarnoputri.
Mr Taufik reportedly had used his continuing control of his wife’s Indonesian Democratic Party, then the second largest party in Indonesia’s Parliament, to broker protection from prosecution for what the US diplomats described as “legendary corruption during his wife’s tenure”.
In December 2004, the US embassy in Jakarta reported that one of its most valued political informants, senior presidential adviser T.B. Silalahi, had advised that then assistant attorney-general Hendarman Supandji, who was leading the new government’s anti-corruption campaign, had gathered “sufficient evidence of the corruption of former first gentleman Taufik Kiemas to warrant Taufik’s arrest”.
But Mr Silalhi, one of Mr Yudhoyono’s closest political confidants, told the US embassy the President “had personally instructed Hendarman not to pursue a case against Taufik”.
No legal proceedings were brought against Mr Taufik, an influential political figure who now serves as speaker of the People’s Consultative Assembly, a largely ceremonial body representing members of parliament.
The US embassy also reported that then vice-president Jusuf Kalla allegedly paid “enormous bribes” to win the chairmanship of Golkar, Indonesia’s largest party, during a December 2004 party congress.
The President’s wife and relatives feature prominently in the US embassy’s political reporting, with American diplomats highlighting efforts of the President’s family “particularly first lady Kristiani Herawati . . . to profit financially from its political position”. As early as 2006 the embassy commented to Washington that “first lady Kristiani Herawati is increasingly seeking to profit personally by acting as a broker or facilitator for business ventures . . . Numerous contacts also tell us that Kristiani’s family members have begun establishing companies in order to commercialise their family’s influence.”
Highlighting the first lady’s behind-the-scenes-influence, the embassy described her as “a cabinet of one” and “the President’s undisputed top adviser”.
Other leaked cables indicate Mr Yudhoyono has used the Indonesian State Intelligence Agency (BIN) to spy on his political allies and opponents.
According to a senior Indonesian intelligence officer, Mr Yudhoyono directed BIN chief Syamsir Siregar to instruct his officers to conduct surveillance on one of the most senior cabinet ministers, State Secretary Yusril Mahendra, while he made a secret trip to Singapore to meet Chinese businessmen.
The President also reportedly tasked BIN to spy on rival presidential candidates. Mr Silalah told US diplomats Mr Yudhoyono “shared the most sensitive BIN reporting on political matters only with himself and Cabinet Secretary Sudi Silalahi”.
Although Mr Yudhoyono won a big victory in the 2009 election, US envoys quickly concluded he was running out of political puff. After political controversies through late 2009 and into last year led to his popularity taking a sharp fall, the embassy said the President was increasingly “paralysed”. “Unwilling to risk alienating segments of the Parliament, media, bureaucracy and civil society, Yudhoyono has slowed reforms,” it said.

Friday, 25 February 2011

Inilah dosa-dosa Nurdin Halid




Sepuluh dosa Nurdin Halid tersebut diungkapkan seorang orator dalam unjuk rasa menuntut revolusi PSSI di Kantor PSSI, Jumat (25/2/2011). Mereka mencatat kesalahan-kesalahan yang pernah dilakukan Nurdin sejak terpilih sebagai Ketua Umum PSSI pada 2003. Demonstran juga menyoroti peran Nurdin Halid, terutama soal ketika ia menjadi narapidana atas kasus pengadaan bahan makanan.

Berikut daftar kesalahan yang pernah dilakukan Nurdin Halid menurut para demonstran tersebut:

1.Nurdin dinilai menggunakan politik uang saat bersaing menjadi Ketua Umum PSSI pada November 2003 dengan Soemaryoto dan Jacob Nuwawea.

2.Nurdin juga mengubah format kompetisi dari satu wilayah menjadi dua wilayah dengan memberikan promosi gratis kepada 10 tim, yakni Persegi Gianyar, Persiba Balikpapan, Persmin Minahasa, Persekabpas Pasuruan, Persema Malang, Persijap Jepara, Petrokimia Putra, PSPS, Pelita Jaya, dan Deltras Sidoarjo.

3.Ada indikasi jual-beli trofi sejak musim 2003 lantaran juara yang tampil punya kepentingan politik karena ketua atau manajer klub yang bersangkutan akan bertarung di pilkada.

4.Jebloknya prestasi timnas ditandai tiga kali gagal ke semifinal SEA Games tahun 2003, 2007, 2099. Tahun 2005 lolos ke semifinal, tetapi PSSI ketika itu dipimpin oleh Agusman Effendi yang merupakan pejabat sementara karena Nurdin Halid di balik jeruji penjara.

5.Membohongi FIFA dengan menggelar Munaslub di Makassar pada tahun 2008 untuk memperpanjang masa jabatannya.

6.Laporan keuangan tidak jelas terutama dana Goal Project dari FIFA yang diberikan setiap tahun.

7.Banyak terjadi suap dan makelar pertandingan, bahkan banyak yang melibatkan petinggi PSSI, seperti Kaharudinsyah dan Togar Manahan Nero.

8.Tidak punya kekuatan melobi polisi sehingga pertandingan sering kali tidak mendapatkan izin atau digelar tanpa penonton.

9.Nurdin merupakan satu-satunya ketua umum PSSI dalam sejarah yang memimpin organisasi dari balik jeruji besi.

10.Nurdin terlalu banyak intervensi terhadap keputusan-keputusan Komisi Disiplin sebagai alat lobi untuk kepentingan pribadi dan menjaga posisinya sebagai ketua umum.


ada lagi yg mau nambahin selain 10 dosa itu ?
Share/Save/Bookmark